Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Jadi Provinsi Termiskin di Pulau Jawa, Yogyakarta Punya Desa Wisata Terbaik di Dunia

Jadi Provinsi Termiskin di Pulau Jawa, Yogyakarta Punya Desa Wisata Terbaik di Dunia yogyakarta. ©shutterstock

Merdeka.com - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf), Sandiaga Uno menegaskan bahwa sektor pariwisata paling ampuh untuk membuka lapangan pekerjaan. Bahkan, sektor ini mampu membuka lapangan kerja enam kali lipat dibanding sektor lain.

Pernyataan Sandiaga Uno sekaligus menjadi respons dari hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) yang menempatkan Yogyakarta sebagai provinsi termiskin se-pulau Jawa.

"Pariwisata ini, ternyata melalui berbagai data yang telah kita olah, mampu menciptakan enam kali lipat jumlah lapangan kerja," ujar Sandiaga dalam weekly brief secara daring, Selasa (24/1).

Meski begitu, dia menghargai hasil survei BPS tersebut. Di satu sisi, Sandiaga mengatakan bahwa status provinsi termiskin di Pulau Jawa tidak mencerminkan potensi wisata di Yogyakarta.

"Tentunya BPS memiliki perhitungan sendiri tapi yang jelas bahwa Yogyakarta ini memiliki destinasi yang luar biasa."

Dia menyebutkan, di provinsi yang dikenal sebagai kota pelajar itu banyak desa wisata terbaik di dunia, seperti di Gunung Kidul, Kulonprogo, Sleman. Desa wisata inilah yang menurut Sandi menjadi sumber peningkatan kualitas hidup finansial warga Yogyakarta.

"Jadi kita harapkan ada lebih banyak investasi di sektor pariwisata, untuk membuka usaha lapangan kerja sehingga kesejahteraan masyarakat akan meningkat dan tambahan lapangan kerja ini tentunya akan meningkatkan taraf hidup dari masyarakat," harap Sandi.

Sebagaimana diketahui, kemiskinan di Daerah Istimewa Yogyakarta mencapai 11,49 persen menduduki peringkat ke-12 provinsi dengan kemiskinan tertinggi di Indonesia.

Walaupun mayoritas masyarakat di DIY telah memiliki pekerjaan yang menghasilkan pendapatan, namun secara statistik kemiskinan DIY dianggap masih tinggi atau provinsi termiskin di Jawa.

Hal ini disebabkan oleh dua hal yakni, pola konsumsi masyarakat DIY cenderung sederhana, dan metode pengukuran statistik belum sepenuhnya bisa menggambarkan purchasing power parity masyarakat DIY yang sebenarnya.

(mdk/idr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP