Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo memproyeksi, pertumbuhan ekonomi tahun ini berkisar 4,8 persen hingga 5,8 persen. Kecepatan pemulihan ekonomi tersebut tergantung pada implementasi berbagai kebijakan dalam rangka menanggulangi dampak pandemi Covid-19.
"Tergantung pada bagaimana kecepatan implementasi berbagai kebijakan. Semakin efektif maka akan semakin lebih tinggi di atas 5 persen," ujar Perry dalam diskusi daring, Jakarta, Jumat (22/1).
Perry mengatakan optimisme terhadap pemulihan ekonomi nasional akan dicapai melalui beberapa sumber yaitu ekspor, fiskal, konsumsi, hingga investasi. Adapun ekspor tahun lalu mencapai USD 16,5 miliar atau tumbuh 14,6 persen.
"Ekspor ini akan menjadi daya dukung pertumbuhan ekonomi," jelasnya.
Lalu investasi, sangat bergantung pada kebijakan pemerintah yang salah satunya berupa Undang-Undang Cipta Kerja sehingga mampu mendorong penanaman modal asing ke Indonesia.
Advertisement
Sementara konsumsi, menurut Perry, mulai meningkat namun tidak secepat perkiraan pemerintah karena sangat bergantung pada bantuan sosial (bansos) dan mobilitas.
"Kemarin menjelang akhir tahun mobilitas naik, konsumsinya naik, sekarang ada PSBB jadi agak menurun sedikit, ini juga ada penurunan sedikit," jelasnya.
Perbaikan ekonomi Indonesia tahun ini juga akan didukung oleh stabilitas makro ekonomi dan stabilitas sistem keuangan. Inflasi diperkirakan terkendali yaitu 3 persen plus minus 1 persen. Defisit transaksi berjalan minus 1 persen sampai 2 persen dari PDB, kredit 7 persen sampai 9 persen, serta dana pihak ketiga 7 persen sampai 9 persen.
"Ini adalah beberapa ringkasan dari outlook 2021 yang mendasari kami untuk tetap optimistis. Mari kita bangun optimisme bagi pemulihan ekonomi," tandasnya.