PT Bank Mandiri Tbk (Bank Mandiri) mengaku masih membutuhkan modal untuk menyongsong Masyarakat Ekonomi Asean 2015 dan Perbankan di 2020. Setelah tak berhasil melakukan akuisisi dengan PT Bank Tabungan Negara Tbk (Bank BTN), tak lantas perseroan diam diri.
Direktur Utama Bank Mandiri, Budi Gunadi Sadikin berharap masih dapat melakukan konsolidasi dengan bank-bank bermodal besar.
"Modal kami masih kalah jauh dibanding perbankan asal Singapura (Bank DBS). Bukan berarti kita akan membeli perbankan kecil (seperti Bank Mutiara) itu bukanlah solusi memperbesar aset dan modal. Kalau modal DBS bisa empat-lima dari kita (perbankan nasional). Jika ambil Bank Mutiara pun tidak akan mengejar mereka, jadi konsolidasi harus dengan yang besar-besar," ujarnya di Lapangan Senayan, Jakarta, Minggu (4/5).Dia mengakui saat ini pihaknya sulit menambah modal dari keuntungan, mengingat setiap Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memiliki kewajiban untuk menyetor dividen setiap tahun. "Bisa naik sih (modal) tapi susah," tambahnya.Kendati demikian, cara konsolidasi bukan satu-satunya untuk memperbesar aset dan modal perbankan nasional. Dia menjelaskan ada tiga langkah yakni laba ditahan (dividen), rights issue (penerbitan saham baru) dan konsolidasi."Modal perbankan itu mesti besar, karena ketentuan CAR saat ini 8 persen, dan nanti di Bassel III akan menjadi 10 persen. Artinya kalau mau nambah aset Rp 1 triliun, harus nambah modal Rp 100 miliar. Itu yang susah buat nambah modal," terangnya.Upaya penambahan modal dengan rights issue sulit dilakukan mengingat ada kepemilikan pemerintah dalam porsi saham perusahaan pelat merah yang dipatok sebesar 60 persen. "Misalnya kalau rights issue Rp 20 triliun Bank Mandiri bisa, pemegang saham dan investor pun senang. Tapi kita harus setor seperti Rp 12 triliun, jadi enggak mungkin bisa."Untuk itu, menurut Budi jalan terbaik adalah dengan konsolidasi yang sudah dilakukan negara lain, seperti Singapura dan Malaysia. "Substansinya konsolidasi harus terjadi, kalau enggak Indonesia bisa ditertawakan bangsa lain. Karena kita bukan tuan rumah di negeri sendiri di 2020," tutupnya.