Presiden Amerika Serikat terpilih, Donald Trump pernah mengemukakan rencana memotong impor minyak dari Arab Saudi. Pernyataan ini disampaikan dalam kampanyenya dalam pemilihan presiden beberapa waktu lalu.
Dilansir CNN Money, Kamis (17/11), Trump meminta Arab Saudi untuk memerangi ISIS atau setidaknya membantu Amerika Serikat perang melawan ekstrimis tersebut.
"Tanpa kita, Arab Saudi tidak akan ada untuk waktu yang lama," kata Trump.
Trump mengaku bakal membawa Amerika Serikat mencapai kemandirian energi dalam menumpas kartel minyak dunia.
Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih mengatakan pelarangan impor minyak ini dapat menjadi bumerang untuk negeri Paman Sam tersebut.
"Di hatinya, Presiden Trump akan melihat manfaatnya. Saya pikir industri minyak juga akan menasihati dia yang menghalangi perdagangan produk apapun akan tidak sehat," ujar Falih.
Falih menegaskan energi fosil merupakan sumber kehidupan ekonomi global dan Amerika Serikat akan memanfaatkan langkah tersebut.
Mantan penasihat energi Obama, Jason Bordoff menambahkan langkah Trump dalam melarang impor minyak tersebut tidak akan bisa tercapai dalam waktu dekat di tengah pasar minyak yang terintegrasi.
Bahkan, Bordoff menegaskan pelarangan impor minyak dari negara lain dapat mengganggu hubungan diplomatik dan melanggar komitmen AS di pasar energi.
AS impor 3,4 juta barel minyak dari negara-negara pengekspor minyak atau OPEC setiap hari pada Agustus. Hampir sepertiga dari minyak OPEC mengalir dari Arab Saudi. Ini membuat Arab Saudi menjadi eksportir terbesar kedua minyak ke AS, setelah Kanada.