Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menyebut bahwa kemacetan di Jakarta terjadi karena sistem moda transportasi belum terintegrasi dengan baik. Pada 2017 lalu saja, Tromptom Traffic Index menempatkan Jakarta sebagai kota termacet nomor 4 di dunia.
Anies menyebut, selama ini pengelolaan lalu lintas berjalan masing-masing. "Selama ini yang terjadi adalah tidak ada pengelolaan jadi satu," kata Anies di Kantor Kementerian BUMN Jakarta, Jumat (10/1).
Anies menegaskan saat ini Pemrov DKI hanya mengelola jalan. Sedangkan stasiun dikelola PT KAI (Persero). Bus yang lewat jalan kelola PT Transjakarta. Satu lagi, angkutan ojek online dikelola masing-masing perusahaan.
Untuk itu, Pemprov DKI lewat PT MRT Jakarta (Perseroda) bekerja sama dengan Kementerian BUMN lewat PT KAI mendirikan perusahaan patungan bernama PT Moda Integrasi Transportasi Jabodetabek. Di perusahaan ini Pemprov DKI memiliki saham sebanyak 51 persen.
Perusahaan baru ini bakal dibawah kendali Pemprov. Alasannya, pengelolaan tata ruang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Sementara tata kelola transportasi bagian dari tata ruang daerah.
Advertisement
Ketika tata transportasi tidak sinkron dengan tata ruang, kata Anies, maka melahirkan masalah, yakni kemacetan. Maka, tata transportasi dikelola Pemda agar mencerminkan tata ruang. "Nah sekarang jadi satu, kendalinya ada di Pemprov," kata Anies.
Dengan adanya sistem integrasi ini, bukan hanya mengatasi masalah kemacetan. Tetapi juga mengintegrasikan subsidi yang diberikan pemerintah.
Bila saat ini subsidi diberikan ke tiap moda transportasi, maka diharapkan subsidi pemerintah masuk dari pintu yang sama. Artinya akan ada kemungkinan penghematan pemberian subsidi.
"Kalau nanti cost terintegrasi dan subsidinya pun terintegrasi, harapannya nanti bisa menghemat subsidi," kata Anies mengakhiri.