Serangan balik SBY ke Jokowi disindir gelar Tour De Java

Di saat SBY menggelar Tour De Java, Presiden Joko Widodo (Jokowi) malah mengunjungi lokasi megaproyek Hambalang.

Henny Rachma Sari
Oleh Henny Rachma Sari - Reporter
Serangan balik SBY ke Jokowi disindir gelar Tour De Java
Meme bandingkan SBY-Jokowi. ©facebook.com

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama kadernya tengah menggelar Tour De Java sejak 8 Maret lalu hingga 13 hari kedepan. SBY akan melintasi beberapa daerah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah hingga Jawa Timur.

Rupanya, aksi tersebut mendapat kritikan dari segelintir pihak. Pasalnya, di saat SBY menggelar Tour De Java, Presiden Joko Widodo (Jokowi) malah mengunjungi lokasi megaproyek Hambalang yang sudah 2 tahun mangkrak akibat para petinggi Partai Demokrat yang notabenenya bertanggung jawab dalam hal itu terjerat kasus korupsi.

Saat mengunjungi lokasi, Jokowi menggeleng-gelengkan kepalanya miris melihat kondisi bangunan senilai Rp 2,5 triliunan itu tak terurus sejak lama pasca terkuaknya kasus korupsi di dalamnya. Alhasil, SBY pun kembali menjadi bulan-bulanan netizen hingga kemudian beredar meme perbandingan aksi SBY dan Jokowi.

Menanggapi pelbagai sindiran itu, SBY pun meradang. Ia tetap bersikeras jika yang dilakukan partai dalam Tour De Java untuk kebaikan bangsa.

"Apa yang kami lakukan itu hanya menyapa rakyat, dan untuk tujuan baik demi nama bangsa ini. Jadi saya minta jika ada yang membully, para kader harus sabar menghadapi kritikan di media sosial," ujar SBY di Surabaya, Minggu (20/3).

Malahan, SBY balik menyerang dengan meminta kepada seluruh kader Demokrat agar tak bosan mengkritik pelbagai kebijakan yang ditelurkan Pemerintahan Jokowi.

"Sampaikan mana yang baik atau pun tidaknya mengenai pemerintahan itu ke Presiden. Agar tahu kritikan dari masyarakat itu adalah untuk kepentingan bangsa dan sifatnya membangun negara," imbaunya.

Sebelumnya, Ketua DPP PAN Teguh Juwarno menilai blusukan Jokowi itu sebagai sindiran keras terhadap SBY. Terlebih belakangan ini SBY baru saja melakukan roadshow.

SBY keliling Jawa untuk menyerap aspirasi masyarakat jelang Pilkada serentak. Tour De Java SBY itu berlangsung selama 16 hari. Bersama Ibu Ani Yudhoyono, SBY mengunjungi empat provinsi di Pulau Jawa.

"Maka tindakan Jokowi ke Hambalang memang untuk menjawab kritik SBY yang cukup gencar dalam roadshow ya," kata Teguh saat dihubungi di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat (18/3).

Meme bandingkan SBY-Jokowi ©2016 Media sosial

Teguh menilai cara Jokowi itu dianggap sangat menusuk SBY. "Benar sekali, karena Hambalang peninggalan era SBY yang sangat erat dengan tokoh-tokoh Partai Demokrat," tegas Teguh.

Sementara itu, pengamat politik Lingkar Mardani, Ray Rangkuti menyebut kunjungan ke Hambalang merupakan suatu simbol jawaban politik Jokowi.

Hal yang sama terjadi ketika drama sidang MKD dalam kasus 'Papa minta saham' di DPR. Jokowi mengundang para pelawak ke istana dan di saat bersamaan mantan Ketua DPR Setya Novanto diadili secara etik oleh MKD. Jokowi, kata dia menggunakan cara yang sederhana tapi maksudnya bisa dibaca publik.

"Jokowi kritik dengan simbol. Dulu soal Setnov dia undang pelawak ke istana. Itu pernyataan simbol jika istana tak terganggu dengan Setnov. Gaya politik dengan simbol tapi tertangkap betul apa maksudnya, kena," beber dia.

Hal yang sama pula dilakukan Jokowi, lanjut dia. Ketika SBY sedang hangat-hangatnya berkeliling ke Pulau Jawa, Jokowi justru berkeliling memeriksa secara detail sudut proyek Hambalang yang dimulai SBY. Jokowi berbicara dalam simbol dan mau mengatakan kegagagalan SBY di proyek Hambalang.

Meme bandingkan SBY-Jokowi ©2016 Media sosial

"Ini skak telak. Ibarat kata, SBY lima langkah cuma dapat lima poin, Jokowi baru satu langkah tapi dapat enam poin. Pada hal SBY udah keliling Jawa," pungkas dia.

Seperti diketahui, proyek Hambalang ini dijadikan bancakan beberapa petinggi Partai Demokrat. Menpora Andi Mallarangeng dan adiknya Zulkarnain Mallarangeng menjadi terpidana dalam kasus korupsi proyek ini. Begitu juga Ketum Demokrat Anas Urbaningrum yang menerima gratifikasi terkait proyek tersebut.

Menpora saat itu Andi Mallarangeng dan adiknya Choel Mallarangeng menjadi terpidana dan tersangka dalam kasus ini. Andi yang dituntut jaksa 10 tahun penjara, divonis 4 tahun penjara dan denda Rp 200 juta pada Juli 2014 lalu. Putusan itu diperkuat di tingkat banding dan kasasi. Sementara Choel Dalam kasus ini, Choel diduga menyalahgunakan wewenang terkait proyek tersebut. Ia dianggap telah memperkaya diri sendiri dan orang lain, juga korporasi atas perbuatan yang dilakukannya.

Mantan Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora), Wafid Muharam, mengatakan, ada permintaan commitment fee sebesar 15 persen oleh Andi Zulkarnain Mallarangeng alias Choel Mallarangeng dari proyek Hambalang. Menurut Wafid, Choel mengatakan, uang itu untuk kakaknya, Andi Alfian Mallarangeng, yang saat itu baru saja menjabat Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora).

Sementara itu, Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan mantan Direktur Operasional 1 PT Adhi Karya(persero) Teuku Bagus Mukhamad Noor. Anas diduga menerima pemberian hadiah terkait perencanaan, pelaksanaan, dan pembangunan pusat olahraga Hambalang.

Hukuman Anas paling berat. Di tingkat kasasi, dia divonis 14 tahun penjara wajib membayar denda sebesar Rp 5 miliar subsider satu tahun dan empat bulan kurungan. Anas juga diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp 57.592.330.580 kepada negara. Hak politik Anas pun dicabut. Padahal di tingkat pertama, Anas divonis 8 tahun penjara dan diringankan di tingkat banding menjadi 7 tahun penjara. Sedangkan Teuku Bagus Noor divonis 4,5 tahun penjara dan denda Rp 150 juta.

Rekomendasi