Pemilihan umum Legislatif (Pileg) di luar negeri yang berlangsung 30 Maret sampai 6 April 2014 sepi peminat. Ini dilihat dari angka keikutsertaan pemilu yang berkurang dibandingkan Pemilu 2009 silam."Saya sudah keliling ke luar negeri, partisipasi pemilih di luar negeri sepertiganya di banding Pemilu 2009. Contoh Singapura dan Malaysia, mereka enggak ngerti kalau ada pemilu. Di Kuala lumpur, WNI di sana gak tahu ada Pemilu. Sosialisasinya tak sampai," kata anggota Komisi I DPR Fayakhun Andriadi, di DPR, Selasa (8/4).Menurut Andriadi, ada banyak penyebab turunnya partisipasi pemilu di luar negeri. Seperti kurangnya sosialisasi. Dia berpendapat banyaknya Warga Negara Indonesia di luar negeri yang tidak tahu adanya Pemilu. Sebagai contoh di Hongkong dari jumlah daftar pemilih tetap yang 102 ribu hanya 5 ribu yang mengikuti Pemilu. Bukan hanya Hongkong melainkan juga di Kuala Lumpur, Malaysia, angka keikutsertaan pemilu tidak sampai 10 persen."Hongkong, jumlah DPT-nya 102 ribu, yang datang 5 ribu. Kuala lumpur DPT 300 ribu, yang datang kurang 10 ribu. Saya tanya ternyata WNI enggak ngerti kalau Pemilu. Tingkat partisipasi pemilih di luar negeri kurang dari 10 persen," ungkap politisi Golkar ini.
Pileg minim sosialisasi, WNI di luar negeri banyak tak nyoblos
Sebagai contoh, angka keikutsertaan Pemilu di Malaysia tidak sampai 10 persen.
Rekomendasi