Kesialan' Djarot saat blusukan, dikira AHY sampai ditegur Panwaslu

'Kesialan' Djarot saat blusukan, dikira AHY sampai ditegur Panwaslu. Meski Ahok berurusan dengan kepolisian karena kasus penistaan agama, tak menyurutkan semangat Djarot menemui warga Jakarta menyampaikan visi misi sekaligus mendengar keluh kesah warga.

Lia Harahap
Oleh Lia Harahap - Reporter
Kesialan' Djarot saat blusukan, dikira AHY sampai ditegur Panwaslu
Djarot kampanye di Kebayoran Lama. ©2016 merdeka.com/imam buhori

Masa kampanye cagub-cawagub DKI Jakarta sudah berjalan hampir satu bulan. Sampai hari ini, tiga pasangan cagub-cawagub terus keluar masuk perkampungan di Jakarta menyapa warga.Tak terkecuali dengan cawagub nomor urut dua, Djarot Saiful Hidayat. Meski pasangannya berurusan dengan kepolisian karena kasus penistaan agama, tak menyurutkan semangat Djarot menemui warga Jakarta menyampaikan visi misi sekaligus mendengar keluh kesah warga.Memang, secara tidak langsung, kasus Basuki Tjahaja Purnama, menjadi ganjalan saat Djarot blusukan. Sudah tiga kali dia didemo warga yang menganggap Djarot bagian dari Ahok, sapaan Basuki, tersangka penistaan agama.Tak cuma ditolak warga, sejumlah kejadian dialami Djarot saat blusukan. Seperti saat mengunjungi Rusun Penjaringan pada akhir pekan lalu. Saat itu, warga tak menyambut kedatangannya dengan hangat. Malah, saat melihat Djarot, warga mencibir lebih ingin didatangi cagub nomor urut satu, Agus Yudhoyono."Wah kirain anak pak SBY, tahunya Pak Djarot. Coba dia (Agus) Yudhoyono, ganteng banget," ujar Yuli ketika ditemui merdeka.com, di lokasi, Sabtu (19/11).

Cawagub Djarot diadang warga

Yuli mengatakan, meskipun Agus belum memiliki bukti dan juga pengalaman membangun Jakarta, Yuli tetap akan memilihnya. "Nggak apa-apa, kan kalau udah jadi bisa belajar," katanya.Menanggapi hal tersebut, Djarot mengaku tidak masalah."Nggak apa-apa, biarin aja. Biarin aja, yang pentingkan hatinya. Justru tadi banyak yang ajak foto kan," ujarnya Djarot sambil tersenyum.Cerita lain, saat Djarot blusukan ke Jalan Kebantenan V, RT 06 RW 06, Kelurahan Semper Timur, Jakarta Utara. Dia sempat ditegur Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu), saat memasuki musala di kawasan itu."Masa kalau aku mau salat enggak boleh?" ujar Djarot kepada anggota Panwaslu yang mendampinginya di lokasi, Sabtu (19/11).Rupanya terjadi kesalahpahaman. Panwaslu yang mendampingi mengira Djarot akan menyampaikan visi misinya. Padahal, kata Djarot, niatnya masuk musala untuk salat sekaligus melihat bagian mana saja yang perlu dibenahi, karena sering kebanjiran."Panwaslu gini ya, saya tahu enggak boleh kampanye di sini (musala), padahal hanya lihat dan ini harus ditinggiin," tegur Djarot pada Panwaslu.

Djarot blusukan di Kramat Jati

Beberapa kali mendapat suasana tak mengenakkan saat kampanye, Djarot tetap memutuskan menemui warga. Dia yakin masih ada warga yang menerima dirinya.Seperti saat berdialog dengan warga di Posko Pemenangan Rumah Lembang kemarin. Melihat antusias warga yang datang, dia gembira.Ditemani sang istri, Happy Djarot, dia mendengar curhat hingga doa dukungan warga. Bahkan Djarot sempat tertawa lepas saat melihat ulah salah satu pendukungnya."Salam dua jari, pilih nomor dua," teriak Abang Negara (40)di hadapan relawan yang hadir di Rumah Lembang, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (22/5).Namun tamu yang hadir termasuk Djarot dan istri malah tertawa. Sebab, saat berteriak angka dua, tangan Abang Negara malah mengacungkan tiga jarinya. Segera Abang Negara membetulkan letak jarinya."Saya ke sini menyatakan dukungan untuk bapak Djarot. Saya doakan Pak Ahok dan Djarot tetap kuat. Kebenaran pasti menang pak," ucap Abang Negara kepada Djarot.Dalam kesempatan yang sama, Djarot meminta warga serta pendukung yang datang untuk berdoa bersama mendoakan Ahok yang akan diperiksa sebagai tersangka kasus penistaan agama di Bareskrim Mabes Polri.

Djarot dan Abang Negara

"Mohon doanya. Kita harus tabah harus kuat agar bisa menegakkan kebenaran dan sampaikan ke seluruh Indonesia," ucap Djarot di hadapan para relawan.Djarot menegaskan, dirinya tidak akan meninggalkan Ahok, walaupun saat ini menghadapi proses hukum di Bareskrim Polri. Hal itu tak lain karena langkahnya sampai di Jakarta tak lepas karena Ahok yang memilih."Tidak ada perbedaan prinsip, maka susah senang saya kan bersama Pak Ahok," tegasnya.

Rekomendasi