Warga Minahasa Utara gunakan plastik bekas lihat gerhana matahari

Bahkan ada yang sengaja membawa kacamata las dari rumah demi berburu fenomena alam yang langka ini.

Tommy A Lasut
Oleh Tommy A Lasut - Reporter
Warga Minahasa Utara gunakan plastik bekas lihat gerhana matahari
Gerhana matahari di Minahasa. ©2016 merdeka.com/tommy lasut

Warga dari berbagai penjuru daerah Sulawesi Utara memadati pantai Firdaus, Kema, Minahasa Utara, Rabu (9/3) pagi. Menariknya, beberapa dari mereka hanya menggunakan peralatan seadanya untuk melihat langsung proses terjadinya Gerhana Matahari Total (GMT). Bahkan sisa plastik bekas yang berserakan di sekitar lokasi menjadi buruan. Tanpa menghiraukan keselamatan mata, mereka memungut apa saja yang dapat menghambat sinar matahari langsung. Dari kantong plastik bekas, plastik kemasan minuman, sisa foto rontgen, dan beberapa limbah sisa lainnya. Bahkan ada yang sengaja membawa kacamata las dari rumah demi berburu fenomena alam yang langka ini."Yang penting apa saja yang dapat digunakan menghalangi paparan sinar matahari langsung. Sayang juga jika tidak dapat melihat kejadian alam yang hanya sekali dalam 300 tahun ini," ujar Angky, warga Manado saat ditemui.Beberapa kali peringatan pihak BMKG untuk melalui pengeras suara untuk tak menggunakan peralatan seadanya, tak digubris. Malah, ada pengunjung yang terlihat mencuri pandang ke angkasa dengan mata telanjang.Meski puncak gerhana hanya 97 persen, acara nonton bareng tetap dilaksanakan dan menyedot perhatian ribuan warga dengan dihadiri langsung beberapa pejabat daerah mulai Gubernur, Bupati dan unsur Forkopimda.Pihak BMKG menyiapkan 1 unit teleskop Vixen untuk menangkap proses GMT terjadi. Teleskop ini sehari-harinya digunakan untuk menentukan awal bulan namun dapat digunakan menangkap pergerakan benda-benda astronomi di angkasa."(Teleskop) Ini juga merupakan teleskop Hilal namun dapat kita gunakan untuk merekam proses terjadinya gerhana seperti saat ini," ujar salah satu staf BMKG yang menolak namanya dipublikasi.

Rekomendasi