Tjong A Fie merupakan salah satu contoh sukses perantau dari China ke Nusantara. Berkat usahanya, dia sukses menjadi taipan dan terkenal dermawan.Saat usianya masih belasan tahun, Tjong Fung Nam nama asli Tjong A Fie merantau ke tanah Deli pada 1875. Dia menyusul kakaknya Tjong Yong Hian yang sudah lima tahun lebih dulu meninggalkan tanah kelahiran mereka di Distrik Meixian, Guangdong, China. Ketika itu sang kakak sudah dipercaya menjadi pemimpin kalangan masyarakat Tionghoa di Medan.Kepintarannya berdagang dan kepandaiannya bergaul menjadi kunci sukses Tjong A Fie. Dia bahkan mampu menjalin hubungan baik dengan keluarga Kesultanan Deli.Saat itu, Kesultanan Melayu Deli memang tengah berada di puncak kejayaannya. Dalam buku 'Tionghoa dalam Pusaran Politik' karya Benny G Setiono yang diterbitkan TransMedia, disebutkan bahwa Sultan Makmoen Al Rasjid Perkasa Alamsyah dan Tuanku Raja Muda membuka pintu bisnis untuk Tjong A Fie. Dia diberi konsesi penyediaan atap daun nipah untuk pembuatan bangsal perkebunan tembakau.
Tjong A Fie ©2016 Merdeka.com
Dalam buku itu, Tjong A Fie juga disebutkan berhasil menjadi pachter candu untuk daerah Deli. Dari keuntungan candu pula dia mengembangkan usahanya. Dia membeli perkebunan karet Si Boelan. Perkebunan karet ini memberi Tjong A Fie keuntungan di saat bisnis tembakau merosot.Selain perkebunan tembakau dan karet, Tjong A Fie juga memiliki perkebunan teh dan kelapa. Dia juga memiliki sejumlah pabrik dan turut menanamkan modal di bidang pertambangan di Sawah Lunto, Bukit Tinggi.Di sektor perbankan Tjong A Fie berkongsi dengan pengusaha dari Penang, Tio Tiaw Siat, mendirikan Bank Deli pada 1907. Bank ini sangat penting bagi pengembangan usahanya.Kemudian pada 1916, bersama Mayor Khouw Kim An, Kapiten Lie Tjian Tjoen, dan kawan-kawan mendirikan Batavia Bank. Tjong A Fie memiliki sepertiga sahamnya.Bukan hanya di Hindia Belanda, usaha Tjong A Fie juga melebar hingga ke tanah leluhurnya. Bersama Tjong Yong Hian dan pamannya Chang Pi Shih, mereka mendirikan perusahaan kereta api The Chow-Chow & Swatow Railyway Co Ltd di China Selatan. Hal itu yang membuatnya berkesempatan bertemu muka dengan Ibu Suri Cixi di Beijing.Ketokohannya membuat Tjong A Fie dipercaya sebagai mayor atau pemimpin kelompok Tionghoa. Dia menggantikan sang kakak yang meninggal dunia pada 1911.Setelah menjadi mayor, Tjong A Fie banyak membantu masyarakat dan melakukan kegiatan sosial. Sang taipan banyak memberikan bantuan untuk pembangunan sejumlah sarana, seperti klenteng, sekolah dan rumah sakit. Dia juga menyumbang untuk pembangunan Masjid Raya Medan. Bahkan dia menanggung seluruh biaya pembangunan Masjid Gang Bengkok. Sepuluh tahun menjabat mayor, tepatnya pada 4 Februari 1921 Tjong A Fie tutup usia. Dia mengalami pendarahan otak. Jasadnya dimakamkan di kawasan Pulo Brayan. Nama Tjong A Fie diabadikan dalam sejumlah prasasti sejumlah sarana yang dibangunnya. Bahkan patungnya masih berdiri di Klenteng Kek Lok Si di Ayer Hitam, Penang, Malaysia.Sejumlah bukti kesuksesan dan kedermawanan Tjong A Fie masih berdiri hingga kini. Kisahnya terukir di rumahnya atau Tjong A Fie Mansion di Jalan Ahmad Yani, Kesawan, Medan. Rumah dengan arsitektur China, Eropa, Melayu dan art-deco yang didirikan pada 1900 ini dibuka untuk umum.
Tjong A Fie Manshion ©2015 merdeka.com/portrait of indonesia
Advertisement