Solar langka, penggilingan padi tak beroperasi

"Saya sudah keliling 10 SPBU lebih di Solo dan Sukoharjo, tapi nihil," ujar Sunyoto, pemilik penggilingan padi.

Arie Sunaryo
Oleh Arie Sunaryo - Reporter
Solar langka, penggilingan padi tak beroperasi
panen padi. ©2012 Merdeka.com/imam buhori

Pembatasan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi tak hanya berdampak pada sektor transportasi, tapi juga pada sektor lain. Puluhan industri penggilingan padi di Sukoharjo, Jawa Tengah, sudah beberapa hari ini tak bisa beroperasi, karena sulit mendapatkan solar.

Beberapa pemilik penggilingan padi mengaku kesulitan membeli solar, meski sudah mencari di beberapa SPBU.

"Saya sudah putus asa karena sulitnya mendapatkan solar dalam sepekan terakhir. Saya sudah keliling 10 SPBU lebih di Solo dan Sukoharjo, tapi nihil," ujar Sunyoto, pemilik penggilingan padi di Desa Mayang, Gatak, Sukoharjo, kepada merdeka.com, Selasa (2/4).

Sunyoto mengatakan sudah sepekan ini dia tak bisa menggiling padinya. Akibatnya ratusan karung gabah terlantar di tempat penggilingan.

"Ini gabahnya menumpuk banyak. Kita juga nggak bisa kirim beras ke pelanggan di pasar," tambahnya.

Kondisi yang sama juga dialami pemilik penggilingan padi di Desa Jati, Kecamatan Gatak, Sukoharjo, Harjono. Dirinya mengaku dalam sehari menghabiskan solar hingga 75 liter, untuk 4 mesin gilingnya.

Namun saat ini, dirinya kesulitan mendapatkan bahan bakar solar. Padahal gabah dari pada petani sudah menumpuk untuk antre penggilingannya. Setelah digiling menjadi beras, sebagian besar dikirim ke Jakarta.

"Pengiriman ke Jakarta sementara berhenti dulu, karena nggak ada beras," kata Harjono.

Harjono mengaku sudah berkoordinasi dengan pemilik penggilingan padi lainnya. Nasib mereka hampir sama, tak bisa beroperasi. Kalau pun bisa hanya sementara waktu saja.

"Kami berharap pemerintah segera memberikan perhatian kelangkaan solar ini. Biar kami tetap bisa memproduksi beras," pungkasnya.

Rekomendasi