Satpam Predator Anak di Tangerang Ancam Santet Korban Kalau Melapor

"Modus berbeda-beda, ada yang diberikan uang, makanan, bermain game dan menonton video. Contoh kesukaan anak seperti bermain burung merpati, ada anak yang dipinjami sepeda motornya, ada yang diajak jalan-jalan ke ITC," ucap Ajat Sudrajat ketua RW didampingi ketua RT setempat Dodi Supriadi, Sabtu (4/7).

Kirom
Oleh Kirom - Reporter
Satpam Predator Anak di Tangerang Ancam Santet Korban Kalau Melapor
Ilustrasi borgol. shutterstock

Syafrudin, satpam predator pelaku pedofilia terhadap 22 anak di Pagedangan, Kabupaten Tangerang, punya banyak cara untuk memancing anak-anak bermain di kontrakan tempat tinggalnya.

Umumnya, pelaku mendekati semua calon korban, dengan memberikan sesuatu kepada anak-anak yang didekatinya. Kemudian, meminta korban anak mengajak teman lainnya, bermain di kontrakan pelaku.

"Modus berbeda-beda, ada yang diberikan uang, makanan, bermain game dan menonton video. Contoh kesukaan anak seperti bermain burung merpati, ada anak yang dipinjami sepeda motornya, ada yang diajak jalan-jalan ke ITC," ucap Ajat Sudrajat ketua RW didampingi ketua RT setempat Dodi Supriadi, Sabtu (4/7).

Karena dalam satu lingkungan, anak-anak yang menjadi korban kejahatan pelaku, umumnya diminta saling mengajak antar sesama teman-teman sepermainannya.

"Pelaku memang meminta anak-anak ini mengajak temannya. Mendekati korban dengan iming-iming apa saja, bahkan ada yang dibelikan handphone, tapi tidak dibawa pulang, kalau dibawa pulangkan mungkin takutnya ketahuan sama orang tua si anak. Kalau uang yang diberikan ke anak-anak bervariasi, dari uang Rp2 ribu sampai Rp50 ribu itu keterangan dari anak-anak," jelas Ajat.

Sebaliknya, setelah tindakan asusila yang dilakukan pelaku terhadap anak-anak tersebut. Pelaku mengancam para anak, untuk tidak bercerita kepada siapapun.

"Diancam kalau bercerita. Kata anak-anak, awas lu kalau bilang-bilang, katanya akan disantet," ucapnya.

Ajat dan keluarga korban lainnya berharap, pelaku dihukum berat atas tindakan asusila yang telah merusak korban anak-anak di kampungnya itu.

"Pesan orangtuanya, minta pelaku kalau bisa dihukum mati. Saat ini orang tua dan anak-anaknya merasa masih trauma, makanya yang buat laporan juga hanya 4 korban," kata dia.

Rekomendasi