Minoritas yang merajai ekonomi Indonesia

Pengusaha asal China sudah lebih dulu terjun ke dunia bisnis dibandingkan orang pribumi Indonesia.

Novita Intan Sari
Oleh Novita Intan Sari - Reporter
Minoritas yang merajai ekonomi Indonesia
Ilustrasi. ©2013 Merdeka.com/arie basuki

Masyarakat China di Indonesia yang sebagai minoritas namun mampu menguasai pasar Tanah Air. Mengapa bisa begitu? Dan ternyata, fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia tapi di negara dunia.Indonesia masih masuk dalam radar investor asing yang ingin menanamkan modalnya di negara-negara berkembang (emerging countries) meski perekonomian nasional tengah mengalami turbulensi. Bahkan saat ini banyak orang kaya di Indonesia bertebaran, harta kekayaan para taipan juga masuk dalam jajaran manusia terkaya dunia.Banyaknya jumlah orang Indonesia yang didaulat masuk jajaran orang terkaya dunia semakin bertambah setelah survei majalah Forbes tahun ini merilis terdapat 25 nama orang Indonesia dibanding tahun lalu yang hanya 17 orang. Artinya, ada delapan wajah baru yang berhasil masuk jajaran orang paling kaya di dunia.Dengan kondisi saat ini saja, bisa dikatakan pertumbuhan orang kaya di Indonesia semakin kuat. Sayangnya orang kaya di Indonesia bukanlah dari asli pribumi Indonesia, melainkan kelompok-kelompok keturunan dari China Tionghoa. Bahkan mayoritas masyarakat China menguasai pasar tanah air. Hal ini bukanlah sesuatu berita aneh lagi di Indonesia.Pengamat Ekonomi, Purbaya Yudhi mengatakan memang kenyataannya sejak zaman-zaman dahulu ini sampai dengan sekarang para pengusaha asal China sudah terlebih dahulu terjun ke dalam dunia bisnis, mulai dari bisnis turunan maupun berdiri sendiri di Indonesia."Pengusaha asal China itu memang sebagian besar mendarah daging bisnisnya di Indonesia, itu sudah sejak dulu sehingga mampu menciptakan sektor (bisnis) yang beraneka ragam," ujarnya saat dihubungi merdeka.com, Jakarta, Jumat (31/1).Diakuinya kelompok-kelompok keturunan China ini menjadi konglomerat di Indonesia dibandingkan dengan orang-orang pribumi Indonesia. Ini lantaran orang-orang pribumi Indonesia belum mampu menunjukkan kerja kerasnya di Indonesia. "Terjun ke bisnis itu orang China lebih dahulu ketimbang orang pribumi kita, itu yang menjadi masalahnya. Tapi sekarang bedalah, orang pribumi sudah beda, mampu juga menjadi businessman," jelas dia.Yang terpenting menurutnya para pengusaha baik pribumi Indonesia maupun China mampu berkompetisi sesuai dengan aturannya. Untuk itu, peran pemerintah juga sangat dibutuhkan, lantaran menyangkut soal roda perekonomian dan iklim investasi maupun bisnis di Indonesia. "Yang penting regulator harus berkompetisi dengan baik tidak konglomerasi, monopoli. Hal itu yang harus tetap diwaspadai, pemerintah tetap harus mengatur, sehingga tahu orang kaya itu mau ke mana arah ke ekonomi," ungkapnya.Kendati demikian hingga saat ini pelaku ekonomi etnis China Tionghoa sesungguhnya masih menjamur di tanah air meski pemerintah tengah memperbaiki situasi perekonomian dan usaha nasional. Namun bisnis harus tetap berjalan terus. Anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) tetap menyarankan pemerintah harus mampu mengatur pengusaha-pengusaha yang masuk di Indonesia sehingga menciptakan iklim usaha bisnisnya yang menguntungkan bagi ekonomi Indonesia."Siapapun pengusahanya dari mana asalnya tidak boleh melakukan atau men-cash harga yang lebih tinggi, harus merata keuntungannya sehingga nantinya tidak hanya menguntungkan perusahaan sendiri," tutup dia.

Rekomendasi