Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy mengungkapkan ketimpangan antara siswa di Jakarta dan Papua. Menurut dia, para siswa di Papua belajar tanpa alas kaki tidak seperti pelajar di Jakarta.
Dia mengatakan, ketimpangan ini yang harus disejajarkan pemerintah. "Jadi namanya sekolah nyeker enggak pakai sepatu itu terjadi ketika saya sekolah SD tahun 60'an itu masih terjadi di sana dan itu adalah anak Indonesia, putra putri terbaik Indonesia yang harus kita besarkan harus kita sejajarkan dengan teman-temannya yang ada di Jakarta," kata Muhadjir saat peluncuran Perpres 105 Stranas-PPDT, Selasa (22/3).
Advertisement
Dia menyebut, jika hanya bicara Jakarta atau Jawa sentris maka kebijakan pemerataan nasional akan menjadi bias. Karena itu, penting untuk turun lapangan melihat realita ketimpangan sosial.
"Agar kita tidak ngawang-ngawang, kalau tidak percaya kita ke Nduga (Papua) sekarang nanti kita datang ke sekolah sekolah masih banyak itu yang nyeker, nyeker itu artinya enggak pakai sepatu," ungkapnya.
"Apalagi ketika terjadi kerusuhan itu tidak ada satu pun dokter yang ada di Nduga hanya ada dua bidan, dua bidan pun ikut lari," kata Muhadjir.
Muhadjir mengaku tidak bermaksud menganggap Kabupaten Nduga daerah negatif. Dia hanya ingin membangun empati agar adanya keperpihakan kepada daerah-daerah yang masih tertinggal.
"Jangan hanya wacana kemudian kita launching perpres tapi kita tidak menghayati makna ketertinggalan ini," pungkasnya.