Menanggapi maraknya aksi pemerkosaan dan kekerasan terhadap perempuan dan anak, ribuan aktivis perempuan dari berbagai organisasi melakukan aksi peduli perempuan dan anak di Jawa Tengah beserta para pelajar di Kota Semarang, Jawa Tengah Jumat (3/6) malam.
Mereka menggelar aksi '1.000 Lilin Keprihatinan' menolak kekerasan terhadap perempuan dan anak.Tampak hadir Wakil Gubernur Jateng Heru Sudjatmoko dan Sekda Pemprov Jateng Sri Purnomo dan beberapa tokoh perempuan di Jawa Tengah. Beberapa tokoh itu adalah anggota DPR RI dari PDI P Agustina Wilujeng, Wakil Wali Kota Semarang Heavearita Gunaryanti dan istri Gubernur Jawa Tengah Siti Atikoh Supriyanti Ganjar.Aksi 1.000 lilin menolak kekerasan yang tergabung dalam Gerakan Anti Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan di Jawa Tengah ini dimulai dengan berkumpul di Halaman Kantor Pemprov Jawa Tengah di Jalan Pahlawan Kota Semarang.Dalam orasinya, Koordinator Aksi Nuniek Sriyuningsih menyatakan sikap bahwa aksi kekerasan yang terjadi saat ini bersumber pada kultur patriarki menyebabkan ketimpangan relasi kuasa. Gender laki-laki masih dianggap sebagai pemilik sifat kuat dan perempuan pemilik sifat lemah."Sehingga lahirlah diskriminasi terhadap perempuan. Kemudian, anak-anaklah menjadi kelompok paling rentan. Keyakinan atas relasi gender yang timpang ini ditambah dengan faktor ekonomi, kemajuan teknologi dan materi pornografi serta minuman keras seringkali jadi pemicu agresi tindak kekerasan dan pemerkosaan," ungkap Nuniek.Untuk itu, Gerakan Anti Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan di Jawa Tengah menyatakan sikap; mengutuk segala bentuk kekerasan terhadap anak dan perempuan. Mendorong masyarakat berani melaporkan kasus kekerasan yang terjadi di lingkungannya."Kemudian kami juga mendesak aparat penegak hukum untuk tegas dalam penegakan hukum dengan memidanakan pelaku kekerasan dan perkosaan dengan sangat memperhitungkan keadilan korban. Lalu, mendorong Pemerintah Daerah Jawa Tengah dan 35 kabupaten/kota se Jawa Tengah beserta seluruh elemen masyarakat giat melakukan sosialisasi sebagai upaya pencegahan terjadinya kekerasan sampai di tingkat desa," ungkapnya.Kemudian juga, Nuniek menambahkan mendesak. DPR RI segera mensahkan Rancangan Undang-undang (RUU) Penghapusan Kekerasan Seksual dengan memastikan substansi dalam RUU yang memuat sistem hukum yang menjamin pemenuhan hak korban, penyediaan akses layanan yang didukung oleh komitmen anggaran pemerintah.Wakil Gubernur Jawa Tengah Heru Sudjatmoko menyatakan mendukung aksi yang digelar oleh ribuan aktifis dan pelajar yang mayoritas perempuan tersebut. Bahkan, Heru menyatakan sepakat dengan tuntutan dan pernyataan sikap dari aksi tersebut."Pada intinya, kita sepakat dan ikut mendorong tuntutan dari aksi ini. Perlu saya yakinkan, Pemprov Jawa Tengah mendukung penolakan upaya kekerasan terhadap perempuan dan anak. Untuk itu, sebagai orang tua baik orang tua laki-laki dan perempuan harus menjadi pelopor untuk menolak kekerasan di keluarganya masing-masing," ujarnya.Istri Gubernur Jawa Tengah, Siti Atikoh Supriyanti Ganjar sebagai Ketua PKK Jawa Tengah menegaskan yang paling terpenting saat ini adalah berusaha secara bersama-sama agar di Jawa Tengah menjadi wilayah aman dan nyaman bagi perempuan dan anak."Mari bersama-sama bahu membahu menjadikan Jawa Tengah sebagai wilayah yang aman dan nyaman bagi perempuan dan anak-anak kita. Jangan sampai muncul lagi kasus-kasus kekerasan yang menimpa terhadap perempuan dan anak-anak di Jawa Tengah," tegasnya.Usai berorasi, ribuan perempuan dengan membawa lilin menyala melakukan aksi jalan kaki sejauh 500 meter lebih menuju ke Lapangan Simpang Lima Kota Semarang. Usai sampai di sana, mereka kemudian juga mengelilingi sekali bundaran Simpang Lima.Kemudian, aksi simpatik yang sempat menutup separuh jalan Lapangan Simpang Lima diwarnai dengan aksi tandatangan dukungan pengesahan Rancangan Undang-undang (RUU) Penghapusan Kekerasan Seksual di atas spanduk putih sepanjang lima meter. Aksi ini juga sempat diwarnai dengan aksi teatrikal. Yang kemudian ditutup dengan berdoa bersama oleh tokoh lintas agama di Jawa Tengah.