Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mengklaim pelaksanaan pekan pertama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tingkat provinsi berjalan baik. Meski begitu, ia khawatir kebijakan relaksasi transportasi publik dimanfaatkan warga terutama orang tanpa gejala (OTG) virus corona (Covid-19) untuk mudik.
Pekan pertama pelaksanaan PSBB ia sebut membuahkan konsistensi hasil adanya penekanan kegiatan berbanding lurus dengan penurunan kasus. Hingga data hari ini, jumlah pasien di rumah sakit rata-rata sekitar di angka 350 orang, turun dibandingkan rentang di akhir April di sekitar 430.
Pada awal hingga pertengahan bulan April tercatat rata-rata terjadi 40 kasus perhari. Dari tengah april sampai akhir April turun ke 28 kasus perhari. Lalu, pada 1 Mei sampai 12 Mei turun lagi menjadi 21 kasus perhari.
"Jadi di Jabar selama PSBB jumlah pasien yang dirawat justru turun bukannya naik, puncaknya terjadi di akhir April. Sekarang tingkat kematian juga turun," kata dia saat konferensi pers daring, Selasa (12/5).
Evaluasi berikutnya, tingkat penyebaran virus setelah diberlakukan PSBB kecepatan indeks untuk reproduksi covid-19 turun di angka 0,86 persen. Ini merupakan hasil dari pelarangan mudik yang sudah ditetapkan.
"Kalau (Indeks) tiga artinya, satu pasien bisa menularkan ke tiga orang dalam satu hari, nah hari ini kita di 0,86, sekarang satu pasien menularkannya ke satu orang dalam satu hari," jelas dia.
Di sektor lalu lintas, peningkatan pergerakan kendaraan meningkat pada sore hari meski angkanya di kisaran 35 persen, atau masih dalam ambang batas yang ditentukan. "Pekan lalu sudah menunjukkan pergerakan kendaraan di kisaran 20 persen. Sekarang ada kenaikan, meski peningkatannya di sore hari," kata Ridwan Kamil.
Di sisi lain, Ridwan Kamil mengaku khawatir dengan kebijakan relaksasi transportasi publik yang dibuat oleh pemerintah pusat bisa mengganggu hasil PSBB. Bisa jadi warga di wilayah episentrum virus memanfaatkannya untuk mudik.
"Takut ditunggangi oleh para pemudik dan OTG (orang tanpa gejala). Data menunjukkan dari terminal dan stasiun yang kita tes ada 1 persen mereka yang dites yang positif, kalau dibuka keran dibuka perjalanan ini, ada potensi 1 persen pembawa virus ini yang harus kita waspadai," pungkasnya.