Ketua DPR sebut vaksin palsu karena keteledoran BPOM

"Ini menyangkut soal kesehatan masyarakat dan jika kita biarkan itu akan berdampak buruk," ujar Ade

Dieqy Hasbi Widhana
Oleh Dieqy Hasbi Widhana - Reporter
Ketua DPR sebut vaksin palsu karena keteledoran BPOM
Ketua DPR Ade Komarudin. ©2016 merdeka.com/dieqy hasbi widhana

Terbongkarnya peredaran vaksin palsu di Bekasi membuat masyarakat was-was. Khususnya mereka orang tua yang memiliki buah hati atau balita.Pengungkapan penjualan vaksin palsu berawal dari ditemukannya beberapa tempat penjualan vaksin yang tidak memiliki izin penjualan. Vaksin tersebut telah tersebar di Bogor, Jakarta, Banten dan Jawa Barat bahkan seluruh Indonesia. ‎Menanggapi hal tersebut, Ketua DPR Ade Komarudin mempertanyakan kinerja Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Menurut dia, seharusnya BPOM bekerja maksimal dalam melakukan pengawasan peredaran obat atau vaksin."Ya ini kan, soal ini dahulu sudah sering terulang ini berarti dari sistemnya sudah benar, sudah ada tetapi ini satu keteledoran dan satu keteledoran dari pengawasan Badan POM," kata Ade di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (27/6). Politikus Partai Golkar ini menambahkan, dirinya akan langsung mengingatkan komisi IX DPR untuk mengawal peristiwa tersebut. ‎"Pasti mengamati hal itu mendalami hal itu dengan baik," tegasnya. Ade berharap Kementerian Kesehatan dan BPOM segera bertindak agar masyarakat menjadi tenang. Jika barang ini terus beredar akan semakin merugikan masyarakat. "Kita harus pertanyakan dengan baik menyangkut hal ini kepada Badan POM, tidak bisa kita biarkan, ini menyangkut soal kesehatan masyarakat dan jika kita biarkan itu akan berdampak buruk akan meluas di masyarakat," jelasnya. Sebelumnya diketahui, Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Brigjen Agung Setya menjelaskan, pengungkapan penjualan vaksin palsu berawal dari ditemukannya beberapa tempat penjualan vaksin yang tidak memiliki izin penjualan. Vaksin tersebut telah tersebar di Bogor, Jakarta, Banten dan Jawa Barat bahkan seluruh Indonesia. Vaksin palsu untuk bayi tersebut diperuntukkan pencegahan hepatitis, campak dan vaksin untuk tuberkulosis, BCG."Kita amankan 10 orang dengan terdiri 5 orang produsen, 2 orang sebagai kurir, 2 orang sebagai penjual termasuk pemilik apotek di Bekasi berinisial J dan satu orang yang mencetak label. Mereka ada yang lulus akademi perawatan, ada juga yang suami istri. Sekarang kita juga baru menangkap 3 orang lagi siang ini di Subang," ujar Agung di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, pada Kamis (23/6) lalu.

Rekomendasi