Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Keluarga tahu Sucinta korban ledakan gudang petasan dari televisi

Keluarga tahu Sucinta korban ledakan gudang petasan dari televisi Keluarga Sucinta. ©2017 Merdeka.com/Genan

Merdeka.com - Tim DVI (Disaster Victim Indentification) Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, berhasil mengidentifikasi satu jenazah korban ledakan gudang kembang api di Kosambi, Kabupaten Tangerang. Korban tersebut berjenis kelamin pria bernama Sucinta (20).

Sore tadi di Instalasi Forensik Kedokteran RS Polri, jasad Sucinta telah diserahkan kepada kedua kakak kandung bernama Danan (31) dan Rendy (26). Tak ada isak tangis dari keduanya saat menyaksikan peti yang membungkus adik bungsunya itu dimasukkan ke dalam kereta membawa jenazah Sucinta ke Indramayu.

Mereka bertiga merupakan anak piatu. Ayahnya tinggal di Indramayu dan kondisinya tidak memungkinkan untuk dibawa ke Jakarta mengikuti serah terima jenazah putra bungsu nya yang masih remaja itu.

"Tinggal laki-laki (ayah) di kampung, orang tua sudah tidak bisa apa-apa. Walaupun kelihatan sehat," ujar Danan kepada merdeka.com di Posko Antemortem RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (06/11).

Sebelum dilakukan serah terima jenazah, Danan salah satu kakak kandungnya sempat menceritakan kisah almarhum hingga dirinya setia menunggu hasil identifikasi adiknya oleh Tim DVI RS Polri. Sucinta merupakan buruh di pabrik PT Panca Buana Cahaya Sukses milik Indra Liono. Sebelumnya, kata Danan, Sucinta bekerja di pabrik miami yang memproduksi mainan anak kecil.

"Tadinya kerja di pabrik miami, awalnya kerja di pabrik miami terus kesitu lagi pabrik petasan, pindah lagi ke miami, ya habis miami, pindah ke situ lagi," kata Danan.

Sucinta diajak bekerja di pabrik kembang api oleh pengelola pabrik. Kakak kandung nya pun mengatakan Sucinta merupakan anak kesayangan dari bos pemilik pabrik mercon tersebut yakni Indra Liono. Sehari-hari pun Sucinta bekerja sebagai penjaga mesin di pabrik mercon itu.

"Katanya dia kan anak kesayangannya sama pak Indra Liono, ya karena (Sucinta) baik lah. Kalo habis ngambil gaji sih dapet satu juta enam puluh ribu, itu ngambilnya 2 minggu sekali dalam sebulan," tutur Danan.

Keluarga Sucinta mengetahui peristiwa ledakan dahsyat tersebut melalui berita di televisi. Keduanya pun bergegas menuju Jakarta untuk mencari kabar adiknya yang merantau dari Indramayu ke Tangerang.

Kedua kakak kandung Sucinta langsung bergegas menuju rumah sakit di Tangerang untuk mencari tahu kabar adiknya yang paling kecil tersebut. Mereka juga sempat menyambangi dinas ketenagakerjaan mencari info adiknya yang bekerja sebagai buruh pabrik tersebut.

"Kami nyari ke rumah sakit di Tangerang. Kita juga sudah ke dinas ketenagakerjaan. Kita juga mengharap dinas ketenagakerjaan membantu juga," ucapnya.

Namun, keduanya dirujuk ke posko antemortem RS Polri untuk menemukan adiknya. Saat tiba di posko, mereka disuruh melengkapi barang-barang adiknya saat masih hidup untuk dicocokkan melalui DNA. Keduanya bergegas menuju kosan adiknya di Tangerang untuk mengumpulkan properti almarhum.

Keduanya pun membawa foto korban, pakaian yang belum dicuci beserta satu potongan kuku yang disimpan almarhum di dompetnya. Dia pun tak menyangka berkat potongan kuku itu adiknya berhasil di identifikasi Tim DVI RS Polri melalui pencocokkan DNA selama 12 hari.

"Kepolisian minta pakaian yang belum dicuci, terus apa itu dikosannya kita nemu di dompetnya dia simpan kukunya, terus ada masker sama foto yang keliatan giginya," paparnya.

Mereka berdua pun menunggu hasil proses identifikasi tersebut di RS Polri. Bahkan, keduanya menginap selama 12 hari di depan posko Antemortem yang diketahui sedang ada proyek gedung rumah sakit baru.

Bukan di Hotel atau tempat selayaknya manusia beristirahat, Danan dan Rendy rela menggelar alas kardus demi menunggu hasil proses identifikasi adiknya selama 12 hari penuh. Mereka tidak memiliki ongkos untuk pulang ke Indramayu.

"Iya di sini sama orang kerja itu, tidur gelar pakai kardus aja di situ, habis gimana kita pulang pergi pulang pergi jauh ke Indramayu, ongkosnya juga mahal, kita lagi ketiban tangga mau ngekos juga gak kuat," kata Danan dengan mata yang berkaca-kaca.

Keduanya pun tak meminta hal apapun dari pemilik pabrik. Mereka ikhlas adiknya berpulang ke sisi-Nya. Ia hanya berharap peristiwa naas tersebut tak terulang kembali bagi bangunan industri dan sebagainya.

"Harapannya jangan ada kejadian seperti ini lagi. Ini pelajaran kita semua. Nyawa itu kan tak ternilai," tutupnya.

Dengan peristiwa itu, Kepala Bidang Dokpol Pelayanan RS Polri Kombes Pol Sumirat mengapresiasi perjuangan keduanya yang setia dan tak menyerah mencari tahu keberadaan keluarganya.

"12 hari menunggu di lokasi, saya salut perjuangannya. Yang penting kita gak nyerah, selama keluarga semangat, pasti kita layani. Kadang kan potongan kuku kan lupa dibuang, dan juga pakaian yang belum dicuci, itu yang kita dibutuhkan," tutur Kombes Pol Sumirat di Posko Antemortem RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (06/11).

(mdk/gil)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP