Peredaran narkoba di Indonesia semakin menggila. Tak hanya di kalangan anak muda dan remaja saja, tapi juga sudah menyasar aparat. Tak heran jika Presiden Joko Widodo menyatakan Indonesia darurat narkoba dan memerintahkan seluruh bandar narkoba mendapatkan hukuman berat, yakni hukuman mati.Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Budi Waseso juga memiliki pendapat yang sama soal peredaran narkoba. Setelah menduduki kursi tertinggi di BNN, Budi menyatakan tak akan segan menghukum siapapun yang terlibat dengan barang haram tersebut, baik itu TNI maupun Polri.Dalam pernyataannya jelang akhir tahun 2015, Budi meyakini ada aparat yang terlibat dalam penjualan barang haram itu di Indonesia. Bukan hanya TNI/Polri, tapi juga BNN."Di BNN ada, di polisi ada, di TNI juga ada," kata Budi.Budi menilai ada kepentingan asing ingin menghancurkan Indonesia terkait penyelundupan narkoba ini. Alasannya, ada pihak-pihak yang diduga membiarkan narkoba dalam jumlah besar masuk ke Indonesia."Kita tahu narkoba ini paling banyak dari China, Taiwan, Nigeria, ada juga Iran. Dari sana terlihat adanya kepentingan negara luar yang menginginkan kehancuran Indonesia. Kenapa? Karena mereka mengekspor ke sini, di sini tujuannya. Ini yang nanti harus didalami Lemhanas, TNI, dan dari BIN," sambung Budi.Baginya, butuh komitmen bersama agar aparat benar-benar bersih dari kejahatan narkoba. Sejauh ini, Budi mengaku banyak pemasok narkoba yang menargetkan aparat sebagai pemakainya."Secara umum anggota TNI, polisi dan BNN juga banyak yang pakai tetap pemasok macam-macam. Ini butuh komitmen bersama bagaimana aparat bersih dan tidak terlibat," kata Budi usai menghadiri sebuah diskusi di Grand Sahid, Jakarta, Senin (22/2).Keterlibatan anggota TNI dalam kejahatan narkoba baik sebagai pemakai maupun bandar sering kali terdengar. Mantan Kabareskrim ini mengatakan BNN tidak mengalami kendala maupun halangan untuk mengungkap jaringan meski yang terlibat adalah anggota TNI."Tidak ada kesulitan. Yang ada juga kita bangun komitmen bersama. Saya kira enggak masalah," kata Budi.Dia melanjutkan, BNN bakal terus memerangi narkoba sampai kedua lembaga penegak hukum tersebut benar-benar bersih dari peredaran narkoba. Bahkan, dia berjanji bakal memberikan hukuman yang setimpal bagi pelakunya."Harapan kita kan aparat terutama institusi penegak hukum ini bersih. Namun jika masih ada yang mengonsumsi juga ya harus diberi hukuman yang setimpal," kata Budi di Hotel Grand Sahid, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Senin (22/2).Menurut Budi, TNI harus lebih giat lagi dengan melakukan penertiban di internal anggotanya. Longgarnya pengawasan, tertutupnya institusi dan mudahnya akses bagi bandar untuk memasok narkoba bagi oknum membuat jajaran BNN kesulitan untuk membongkar jaringan di sana."Karena ini menyangkut musuh negara. Maka saya minta komitmen bersama dari para pimpinan TNI untuk bersama mencegah dampak yang lebih luas," katanya.Kemarin, Kepala Penerangan Komando Strategis Angkatan Darat (Kapen Kostrad) Kolonel TNI Heru Dwi Wardhana menyatakan TNI bakal gencar melakukan pemberantasan narkoba, baik itu pelakunya merupakan prajurit, polisi atau politikus. Mereka yang tertangkap bakal menghadapi tindakan tegas."Kita sedang benahi dan tidak ada kompromi untuk soal narkoba," tegas Heru.
Advertisement
Khusus bagi pelaku yang berasal dari kepolisian, sipil atau politikus, TNI akan menyerahkan langsung kepada lembaga yang berwenang melakukan penyelidikan dan pemeriksaan terhadap mereka. Sementara prajurit TNI yang dijerat bakal diadili secara militer."Untuk orang luar, oknum Polri dan sipil plus politisi diserahkan ke Polisi atau BNN," lanjut dia.Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) melakukan penggeledahan terhadap anggotanya yang diduga memakai narkoba. Dalam razia itu diamankan sejumlah barang bukti.Operasi digelar di Perumahan Kostrad Tanah Kusir, Jalan Darma Putra 3 oleh Tim Yonintel Kostrad dan Pom Kostrad Asintel Kaskostrad. Razia dilakukan 21 Februari lalu.Kapuspen TNI Mayjen Tatang Sulaiman saat dikonfirmasi membenarkan adanya kegiatan tersebut. Namun dia mengaku tidak memiliki data lengkap siapa saja yang diamankan."Yang kemarin dilakukan penertiban oleh POM Intel Kostrad," kata Tatang.Untuk identitas yang diamankan dan barang bukti, Tatang meminta hal tersebut ditanyakan langsung ke Kostrad. "Itu kan internal silakan tanyakan langsung ke Kostrad," tuturnya.Informasi dihimpun sejumlah anggota TNI diamankan beserta barang bukti, berupa sabu, ekstasi, bong, HP, timbangan, alat tes urine dan uang tunai. Penggeledahan dilakukan di rumah dua anggota yang identitasnya masih belum diketahui.Operasi digelar di Perumahan Kostrad Tanah Kusir, Jalan Darma Putra 3 oleh Tim Yonintel Kostrad dan Pom Kostrad Asintel Kaskostrad. Razia dilakukan 21 Februari lalu.Kepala Penerangan Kostrad Letkol Heru membenarkan hal tersebut. Menurutnya, operasi itu adalah kegiatan rutin untuk membenahi internal."Pembenahan internal. Kostrad konsisten memberantas narkoba," katanya.Penggeledahan dilakukan di rumah Serda Z dan Serka K. Sejumlah barang bukti ditemukan, namun jumlahnya belum dapat dipastikan.Barang bukti berupa sabu, ekstasi, bong, HP, timbangan, alat tes urine dan uang tunai. "Semua masih dalam pendalaman. Proses hukum berlaku bagi anggota yang terbukti narkoba," tegasnya.Menanggapi penggerebekan itu, Budi Waseso menjelaskan kelanjutan dari peristiwa tersebut bukan berada di tangan BNN. Melainkan, menjadi tanggungjawab dari TNI. Apabila, nantinya terbukti, kemungkinan besar TNI akan melimpahkan kasus ini ke Kepolisian. "Enggak, itu kan internal dulu sama TNI, kita sifatnya membantu. Nanti kewenangannya nanti dari tim internal TNI nanti jikalau dia memang betul pasti diserahkan ke Polri atau nanti ke BNN," kata Budi.Mantan Kabareskrim Mabes Polri itu menduga ada beberapa faktor yang menyebabkan TNI akhirnya masuk ke jeratan narkoba. Salah satunya, terpengaruh dari jaringan narkoba kelas kakap. "Macem-macem ya, karena terpengaruh bisa saja, karena itulah jaringan narkotika ini kan hebat, dia bisa mempengaruhi seluruh lapisan, termasuk TNI, Polri, BNN, macem-macem kan ya," ujarnya. Budi Waseso menjelaskan penggerebekan di Perumahan Kostrad tersebut menjadi sebuah bukti dari Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo yang ikut berperan dalam upaya pemberantasan narkoba. "Ini adalah dalam rangka Panglima TNI menindak lanjuti masalah narkotika, jadi beliau konsen betul terhadap masalah ini sehingga beliau mengambil langkah-langkah di internalnya beliau," ujarnya.