Belakangan artis yang namanya sudah akrab di telinga masyarakat Indonesia, Syahrini menyanyikan lagu 'Kota Santri' hasil aransemen Anang Hermansyah. Lagu tersebut meluncur ke masyarakat di tahun 2010, setelah momen Ramadhan. Lagu tersebut menjadi bagian album religi dengan judul Ramadhan Cinta.Lantas karena album itu nama Syahrini tiba-tiba dikenal banyak orang. Artis bernama asli Rini Fatimah Jaelani tersebut menggaet Anang Hermansyah untuk produksi bersama.Selain itu, Band Gigi juga pernah menikmati ketenaran karena mengarasemen lagu 'Kota Santri'. Menjelang bulan ramadhan beberapa tahun yang lalu, grup band tanah air Gigi merilis album religi yang bertajuk Mohon Ampun, lagu Kota Santri menjadi bagiannya.Namun ternyata tak banyak masyarakat tahu, siapa pencipta asli dendang bernuansa religi tersebut. Bahkan tak ada yang tahu jika pencipta lagu tersebut berpikiran idealis, dia tidak ingin mengkomersilkan agama, akan tetapi dia hanya ingin berdakwah melalui lagu.Masyarakat pra-millenial pasti akrab dengan sebuah grup musik beraura religius, Nasida Ria. Grup qasidah tersebut tumbuh di Semarang. Hingga saat ini kabarnya lagu tersebut telah diversikan menjadi 12 bahasa yang berlainan. Selain itu telah diimprovisasi ke berbagai genre musik mulai dari dangdut, jawa, disco, keroncong, sampai pop.Di balik Syahrini, Band Gigi, maupun Nasida Ria, nama H. Suhaemi tenggelam. Padahal dia merupakan pencipta asli lirik dan irama lagu 'Kota Santri'.Meskipun menjadi pencipta lagu yang membuat banyak artis menjadi tenar,
Advertisement
semasa hidupnya H. Suhaemi tak pernah mengenyam bangku pendidikan. Bahkan dia sama sekali tidak mengetahui apa itu not balok. Namun anehnya lirik dan irama yang muncul dari jiwa seninya membuat banyak orang kepincut.Tak hanya 'Kota Santri', Suhaemi juga menciptakan banyak lagu lain. Beberapa di antaranya ialah Ada Ubi Ada Talas, Masitoh Indonesia, Pergi Mengaji, Jilbab Putih, Pondok Pesantren, Ulama dan Umaro, Azan Di Bulan, Asyik Santai, Pantun Gembira, Jangan Merayu, Abad Modern, Nasehat Pergaulan, Balada Walisongo, Buah Kuldi, Remaja Utuh, Melangkah Masa Remaja, Miskin Tapi Bahagia, Serba Salah, dan sebagainya.Suhaemi hidup di era 1955. Di tempat tinggalnya daerah Kendal, Jawa Tengah, ramai tradisi bermain alat musik rebana. Masyarakat kerap memainkannya untuk mengiringi nyanyian religi. Hidup dalam kultur semacam itu membuat lelaki tersebut tertarik berkecimpung di bidang musik bercorak Islami. Lantas selain belajar alat musik, perlahan dia belajar olah vokal.Hasilnya, Suaemi berhasil membawa pulang piala juara 2 dari festival dendang melayu se-Jawa Tengah pada era 1958. Dua tahun setelahnya dia malah mendapat juara pertama.Di saat terjun dalam dunia seni. Suaemi tidak berharap mencari untuk lewat apa yang agama Islam punya. Dia sengaja menyelipkan hadist maupun ayat-ayat Al-Quran dalam lirik hanya agar masyarakat tertarik pada ajaran Islam. Lebih dari itu, Suhaemi ingin petuah dalam ajaran Islam direalisasikan masyarakat.Setalah berhasil mengantongi sejumlah prestasi, Suhaemi enggan tinggal di kota besar. Pola hidupnya sederhana, malah dia menikmati profesinya sebagai penjaga Pom Bensin.