Di rapat paripurna, anggota DPR usul pembentukan TPF aksi KKB di Papua

Anggota DPR dari Fraksi PDIP, Jimmy Demianus Ijie, menyebut OPM terbagi menjadi dua yakni kubu yang ingin memerdekakan Papua dan kubu sengaja dibentuk untuk kepentingan jabatan pihak tertentu.

Raynaldo Ghiffari Lubabah
Di rapat paripurna, anggota DPR usul pembentukan TPF aksi KKB di Papua
tentara papua. ©2017 smh.com.au

Rapat Paripurna dengan agenda pembukaan masa sidang II tahun 2017-2018 diawali dengan interupsi sejumlah anggota DPR terkait aksi teror dari kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Distrik Tembagapura, Papua. Anggota DPR dari Fraksi PDIP, Jimmy Demianus Ijie, mengusulkan pembentukan tim pencari fakta untuk mengetahui apakah senjata yang dipakai KKB adalah hasil rampasan atau ada pihak yang memasok.

Sebab, Jimmy melihat senjata-senjata yang dipakai puluhan anggota KKB seperti yang dipakai TNI Angkatan Darat (AD).

"Saya mendorong bentuk tim pencari fakta. Senjata darimana? rampasan atau seperti. Kalau Saya lihat itu senjata dari Angkatan Darat," kata Jimmy di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (15/11).

Dia menduga ada pihak yang memasok senjata tersebut kepada KKB. Selain itu, usulan pembentukan TPF juga bertujuan agar segala aksi penyanderaan dan kekerasan di Papua tidak diarahkan ke Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Dia menjelaskan, OPM terbagi menjadi dua yakni kubu yang ingin memerdekakan Papua dan kubu sengaja dibentuk untuk kepentingan jabatan pihak tertentu.

"Ada OPM sungguhan, ada OPM bentukan demi merebut jabatan di Jakarta," ujar Jimmy.

Meski demikian, politikus PDIP ini setuju jika pihak-pihak yang melakukan gerakan separatis untuk memisahkan diri dari NKRI dengan cara-cara kekerasan diberantas.

"Saya setuju kalau ada yang memisahkan dari Indonesia, kita libas. Jangan demi alasan kemudian membenarkan cara ada pihak yang menanti apa tindakan yang kita lakukan," tandasnya.

Sebelum Jimmy memberikan interupsi, Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini mengingatkan pemerintah dan aparat penegak hukum agar tidak meremehkan aksi yang dilakukan KKB. Dia meminta teror yang dilakukan KKB ditangani dengan cepat seperti saat menangani teroris.

"Harus cepat menanganinya seperti menangkap teroris. Terduga teroris dihajar, tapi kenapa ini kok lamban sekali menanganinya. Negara harus memerangi separatis dan terorisme," tukas Jazuli.

Aksi teror penembakan oleh KKB wilayah Tembagapura sudah berlangsung lebih dari tiga pekan terakhir.

Saat ini sekitar 1.300 warga sipil masih terjebak di kampung-kampung sekitar Tembagapura seperti Banti, Kimbeli yang sudah diduduki KKB.

Rekomendasi