Cerita Poso dijadikan qoidah aminah teroris di Indonesia

Ada dua syarat sebuah daerah bisa dijadikan qoidah aminah. Salah satunya yaitu adanya dukungan masyarakat setempat.

Hery H Winarno
Oleh Hery H Winarno - Reporter
Cerita Poso dijadikan qoidah aminah teroris di Indonesia
Wilayah persembunyian Santoso di Poso. ©Reuters/Kanupriya Kapoor

Gembong teroris paling dicari di Indonesia, Santoso alias Abu Wardah dinyatakan tewas dalam penyergapan yang dilakukan oleh Tim Satgas Tinombala di hutan belantara di Poso, Sulawesi Tengah. Santoso dan anak buahnya, Mochtar dinyatakan tewas pada 18 Juli lalu.Santoso mulai dicari secara besar-besaran pada Januari 2015. Saat itu, operasi penangkapan Santoso dan anak buahnya diberi kata sandi Camar Maleo I. Ribuan personel gabungan dari Polri dan TNI dikerahkan untuk memburu bos kelompok Mujahidin Indonesia Timur itu.Selama Operasi Camar Maleo I, II, III dan IV digelar dari Januari 2015 sampai Januari 2016, kepolisian telah menangkap 24 orang teroris, tujuh orang dalam keadaan tewas dan 17 lainnya sedang dalam proses hukum.Operasi Camar Maleo ini juga mengakibatkan dua orang polisi dan seorang anggota TNI gugur dan empat polisi luka-luka. Polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti kegiatan terorisme seperti senjata api, amunisi, bom rakitan, bahan pembuat bom, pakaian, senter, pakaian dan bendera ISIS serta banyak benda lainnya.Operasi besar-besaran untuk menangkap Santoso di Poso memakan waktu satu tahun enam bulan. Sesulit apakah mencari kelompok teroris ini di hutan Poso?Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebut Poso sudah dijadikan qoidah aminah atau basis aman bagi kelompok Mujahidin Indonesia Timur di bawah komando Santoso. Hal ini membuat perburuan terhadap kelompok memakan waktu lama.

"Mereka sudah buat konsep qoidah aminah atau tempat ideal, tempat mereka cikal bakal," kata Tito dalam jumpa pers kepada wartawan setibanya di Poso, Rabu (20/7). Dijelaskannya, kenapa kawasan Poso menjadi tempat ideal karena bekas daerah konflik. Latar belakang itulah yang membuat sebagian warga yang trauma 'welcome'."Selain itu, jauh dari pemerintah, terpencil, sehingga dianggap jauh dari radar. Dari tahun 2000 pascakonflik sudah jadi qoidah aminah tempat ideal, base pertama. Jadi jaringan dari Jawa, Sulawesi, Sumatera, kumpulnya di sini," jelasnya.Tito mengatakan, ada dua syarat sebuah daerah bisa dijadikan qoidah aminah. Salah satunya yaitu adanya dukungan masyarakat setempat. "Yang kedua daerah ini dianggap ideal untuk perang gerilya karena tempatnya hutan dan gunung. Yang ketiga karena tempatnya jauh dari ibu kota Jakarta," kata Tito.Namun dengan dilumpuhkannya Santoso dia berharap pergerakan kelompok ini sedikit terhambat. Sebab selama ini, Santoso dianggap sebagai figure kelompok MTI."Santoso jadi figure perlawanan pada pemerintah, dengan adanya ini qoidah aminah jadi gagal, otomatis jadi gagal. Sehingga mereka disorientasi jaringan. Jadi tertangkapnya ini bukan akhirnya terorisme yang padam " pungkasnya.

Rekomendasi