Usia senja bukan penghalang bagi M Nur untuk tetap berusaha. Lelaki renta ini tetap berkeliling menjajakan 'jamu pait' menjadi mata pencariannya. Dia tinggal bersama tiga orang anaknya yang sudah dewasa, namun tetap menjadi tulang punggung keluarga.Setiap sekitar pukul 17.00 WIB, pria berusia sekitar 80 tahunan ini sudah berangkat dari rumah untuk menjual jamu hasil racikannya sendiri. Ditemani dengan anak pertamanya, Junaedi, dia berkeliling hingga pukul 01.00 WIB dini hari.Untuk menjajakan jamunya, Nur pergi berkeliling di sekitar kawasan rumahnya, Bukit Duri, Jakarta Selatan. Untuk menghilangkan lelahnya, Nur memilih beristirahat di Masjid As Syafiiyah selama 1-2 jam.Meski berjualan hingga larut malam, jamu buatannya tak semuanya habis terjual. Alhasil, dalam sehari dia hanya mendapatkan penghasilan sebesar Rp 20 ribu. Walau sedikit, semangatnya tak penah pudar, ia percaya risiko itu harus ditanggungnya sebagai pedagang tanpa harus mencari belas kasihan dari orang lain."Kalau cuma ngandelin ini, ya, enggak cukup. Setiap hari ada aja yang kasih. Saya enggak pernah minta, mereka yang kasih uang, makanan, sama kue. Ya alhamdulillah," cerita Pak Nur saat ditanya mengenai pendapatannya per hari, belum lama ini. Dari hasil pemberian orang itu dapat membantu kehidupannya sehari-hari.Jamu menjadi temannya sejak 1967. Semasa mudanya, dia sempat memiliki sebuah warung kecil di kawasan Jatinegara. Saat itu ia berjualan rokok sejak pagi hingga sore, dilanjutkan berkeliling menjual jamu hingga pukul delapan malam.Namun, usaha itu tak lagi bisa dilakukannya sejak mengidap rematik. Warungnya yang menjadi tempatnya mencari nafkah terpaksa ditutupnya. Di usianya yang mulai renta, dia tetap berusaha berjalan sembari menggandeng sepeda tuanya untuk berjualan jamu.Nur mengklaim, jamu jualannya itu memiliki khasiat untuk mengobati demam berdarah, menambah nafsu makan dan tidur, mengobati penyakit kulit, dan lain sebagainya. Semangatnya tak pernah surut meski hanya bisa terduduk duduk lesu di atas troli miliknya.Meski ketiga anaknya sudah dewasa, namun semuanya tidak memiliki pekerjaan. Belum ada satupun dari mereka yang dapat memberikannya seorang cucu."Gimana punya cucu, anak-anak saya belum ada yang menikah. Jangankan menikah, bekerja saja enggak. Saya yang biayai mereka sampe sekarang. Anak laki sih bantuin dagang ini aja, kalau yang cewek cuma di rumah bantu-bantu masak," ungkap duda sudah tiga tahun lalu ditinggal istrinya ini.Begitu sederhana kehidupan kakek yang berjuang di ibu kota dengan jamu seharga Rp 3 ribu untuk satu plastik kecil atau setara dengan segelas air. Namun cukup berarti bagi Nur beserta tiga orang anaknya.
Cerita perjuangan hidup pedagang jamu renta bersama tiga anaknya
Meski usianya sudah renta, pantang bagi Nur untuk meminta belas kasihan dari orang asing. Bagaimana kisahnya?
Advertisement
Rekomendasi