Kondisi pandemi akibat virus Covid-19 juga berdampak pada kelangsungan usaha petani kopi robusta di Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Sebab beberapa bulan terakhir, petani merasakan harga kopi cenderung turun, bahkan lebih rendah dari rata-rata harga kopi biasanya.
Penurunan harga kopi ini berdampak pada pendapatan para petani yang berharap hasil panennya tetap berlimpah meski pandemi belum terakhir. Apalagi petani kopi robusta maupun sebagian kecil pembudidaya kopi arabika di Lampung saat ini sedang memasuki panen raya.
"Saat ini kami sedang panen raya kopi, meskipun harganya cenderung turun, tapi kami masih berharap hasil panen tetap tinggi," ujar Syarif Hidayat, pekebun kopi yang juga pengurus Gabungan Kelompok Tani Hutan (Gapoktanhut) Mitra Jaya Rindingan di Kecamatan Ulubelu, Tanggamus. Demikian dikutip dari Antara, Rabu (29/7).
Harapan panen kopi dengan produksi tinggi disampaikan pula oleh Rendy Hararuddin, Ketua Gapoktanhut Lestari Sejahtera di Sedayu, Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus. Rata-rata pekebun kopi itu membudidayakan lahan produktif untuk ditanami kopi robusta antara satu hingga 2,5 hektare.
Harga kopi saat ini berkisar Rp17.000 hingga Rp18.500 per kg. Harga ini cenderung turun.
"Sekarang, harga kopi robusta asalan sekitar Rp18.500 per kg. Padahal, kopi yang kami produksi menjaga kualitas dengan cara memilih buah kopi merah (petik merah). Alangkah bahagianya petani kalau harga juga dapat sesuai dengan kualitasnya," ujar Sri Wahyuni, pengelola usaha kopi bubuk di Pekon Ngarip, Kecamatan Ulubelu, Tanggamus.
Lampung menjadi salah satu provinsi penghasil kopi robusta utama di Indonesia. Kopi merupakan salah satu komoditas andalan dari Lampung untuk diekspor. Rata-rata Lampung mampu berkontribusi 24,19 persen dari produktivitas kopi nasional.
Produksi petani kopi Lampung khususnya kopi robusta mencapai angka 90.000-100.000 ton per tahun.
Produktivitas petani kopi umumnya di Lampung berkisar satu hingga empat ton per hektare. Pemprov Lampung menargetkan ke depan produksi kopi petani di daerah ini naik dari rata-rata 0,78 ton per hektare menjadi rata-rata empat ton per hektare.
Pandemi Covid-19 dirasakan dampaknya bagi para petani kopi di Lampung, termasuk di Tanggamus.
Sri Wahyuni, pengelola usaha kopi bubuk di Ngarip, Kecamatan Ulubelu, Tanggamus mengakui penjualan menurun drastis sejak merebak pandemi ini. Biasanya, bisa menjual sekitar satu kuintal kopi bubuk. Kini anjlok hanya sekitar 50 kg.
"Untuk tetap bertahan di tengah kondisi pandemi tersebut, petani kopi di Ulubelu menerapkan metode tumpang sari sembari menunggu panen kopi. Biasanya, kami menanam cabai dan pisang di sela-sela tanaman kopi sebagai penghasilan mingguan bagi petani," jelas Sri.