Banyak Warga Kenakan Masker di Leher, PSBB di Palembang Perlu Dievaluasi

Potensi penularan Covid-19 di kota itu masih terbuka karena tingkat kepatuhan terhadap protokol kesehatan masih rendah.

Irwanto
Oleh Irwanto - Reporter
Banyak Warga Kenakan Masker di Leher, PSBB di Palembang Perlu Dievaluasi
PSBB Palembang. ©2020 Merdeka.com/Irwanto

Meski Palembang telah dilakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), namun masih banyak ditemukan pelanggaran. Salah satunya adalah perilaku warga yang mengenakan masker di leher, bukan menutupi mulut dan hidung.

Perilaku itu ditemukan Gugus Tugas Covid-19 Sumsel sejak pelaksanaan PSBB 21 Mei 2020 dan direncanakan berakhir 2 Juni mendatang. Potensi penularan Covid-19 di kota itu masih terbuka karena tingkat kepatuhan terhadap protokol kesehatan masih rendah.

Juru bicara Gugus Tugas Covid-19 Sumsel Yusri mengungkapkan, tingkat kesadaran masyarakat yang rendah itu ditemukan di tempat-tempat keramaian, seperti pasar. Banyak warga yang tidak terlihat tidak mengenakan masker atau dipasang tidak semestinya.

"Banyak kasus yang kami temukan di lapangan, semisal tidak mengenakan masker atau pakai masker tapi mulut dan hidungnya masih terbuka karena masker itu justru digantung di leher," ungkap Yusri, Minggu (31/5).

Melihat kondisi ini, PSBB harus dievaluasi secara mendasar dan kebijakan new normal di kota itu mesti dipertimbangkan lagi. Diperlukan sosialisasi secara menyeluruh agar anjuran pemerintah dalam memutus rantai Corona bisa menemukan hasil.

"Pasar memang tidak bisa ditutup, tetapi harus utamakan keamanan semua. Orang yang tidak biasa mengenakan masker memang dibuat tidak nyaman, tapi itu lebih aman jika patuhi anjuran pemerintah. Di sini diperlukan kerjasama semua pihak," kata dia.

Dari fenomena yang ada, penerapan new normal di Palembang sebaiknya tidak dilakukan secara buru-buru. Perlu kajian medis meningkat jumlah penambahan pasien positif Covid-19 masih fluktuatif, terlebih sampel yang masih menunggu hasil pemeriksaan masih banyak, lebih dari 2 ribu sampel.

"Sampai sekarang ada 963 pasien positif Covid-19 di Sumsel, mayoritas berada di Palembang," kata dia.

Hal senada disampaikan Prof Yuwono yang juga juru bicara Gugus Tugas Covid-19 Sumsel. Secara umum, kata dia, Palembang dan mayoritas daerah di provinsi itu belum memenuhi syarat menuju new normal.
Ada beberapa hal yang menjadi alasan penilaian itu. Menurut dia, penyebaran Corona di Sumsel belum terkendali atau masih di atas tingkat penularan yakni 2-3 orang. Padahal kriteria new normal berada di bawah 1.

"Penularan masih ada dan menularkan lebih dari satu orang. Artinya penulis belum bisa dikendalikan, belum bisa menuju new normal atau new normal life," tegasnya.

Selain itu, sistem kesehatan di Sumsel yang mesti dievaluasi sehingga kenormalan belum bisa dilakukan dalam waktu dekat. Orang hasil tracing yang dilakukan dengan cepat tak berimbang dengan kapasitas karantina standar di daerah seperti di Wisma Atlet Jakabaring Palembang.

Apalagi, kata dia, mayoritas pasien positif di Sumsel adalah orang tanpa gejala yang memerlukan penanganan. Sementara isolasi mandiri di rumah tak efektif karena yang bersangkutan belum tentu melakukan aktivitas sesuai protokol karantina.

"Saran kami OTG itu isolasi di sebuah tempat khusus atau dikarantina, bukan di rumah. Itu lebih efektif," pungkasnya.

Rekomendasi