Antisipasi banjir, warga Citeureup keruk Lumpur di Sungai Cibeber

Pengerukan dilakukan karena adanya pendangakalan dasar sungai sehingga saat hujan turun air dengan cepat merendam rumah.

Ilham Kusmayadi
Oleh Ilham Kusmayadi - Reporter
Antisipasi banjir, warga Citeureup keruk Lumpur di Sungai Cibeber
Warga keruk lumpur di sungai Cibeber. ©2016 Merdeka.com

Untuk mengantisipasi terjadinya banjir yang lebih besar, ratusan warga mengetuk dan mengangkut 1.600 meter kubik lumpur yang disinyalir menjadi penyebab utama meluapnya air Sungai Cibeber, di Kelurahan Puspanegara, Citeureup, Kabupaten Bogor, hingga merendam ratusan rumah setinggi dada orang dewasa, Minggu (20/03). Dalam kesempatan itu, tak hanya warga, ratusan karyawan PT Indocement Tunggal Prakarsa (ITP) yang memang letak pabriknya cukup dekat dengan sungai juga ikut aktif hingga menurunkan satu unit eskavator.Informasi diperoleh, selain adanya pendangakalan dasar sungai sehingga saat hujan turun air dengan cepat merendam rumah. Penyempitan aliran Sungai Cibeber, juga diduga menjadi penyebab bencana banjir yang intensitas relatif sering dan parah. "Sebelum terjadinya pendangkalan dan banyaknya bangunan hingga terjadi penyempitan sungai, banjir hanya setahun sekali. Tapi sekarang dalam satu minggu bisa tiga kali. Bahkan yang terakhir sempat setinggi dada orang dewasa," kata Ibu Mulyadi, Ketua RT 04/10, Kelurahan Puspanegara, Citeureup, Kabupaten Bogor, saat ditemui disela-sela aksi gotong-royong dan normalisasi Sungai Cibeber.Pihaknya, mengaku bersyukur akhirnya pihak PT ITP yang lokasi pabriknya persis tak jauh dari Sungai Cibeber atau Kelurahan Puspanegara mau mengerahkan karyawan dan alat berat untuk melakukan normalisasi sungai Cibeber. "Secara tidak langsung memang sudah menjadi tanggungjawab Indocement, karena di pinggir aliran sungai ini banyak bangunan milik Indocement, seperti bangunan Sekolah Yayaysan PT Indocement, letaknya persis berada di bibir sungai," ujar dia.Sementara itu, Direktur Eksekutif PT ITP Kuky Permana yang turut hadir dalam kegiatan normalisasi mengaku membutuhkan sekitar 400 truk untuk mengangkut ribuan meter kubik lumpur yang menjadi penyebab utama banjir di kawasan Citeurueup, khususnya di Kelurahan Puspanegara ini. "Kami bukan hanya menerjunkan satu unit alat berat (excavator) untuk mengangkat sedimentasi sungai Cibeber, akan tetapi mengirimkan 140 orang karyawan Indocement untuk membantu membersikan sungai yang menyebabkan banjir rumah warga," kata dia.Bahkan, pihaknya juga memberikan bantuan sebanyak lima ton berikut batu kapur dan pasir untuk korban tanah longsor yang terjadi di tiga kampung yakni Kampung Cijengkol, Kampung Bojongkoneng dan kampung Muhara. "Material ini mudah-mudahan dapat berguna untuk memperbaiki 39 rumah warga yang rusak akibat tanah longsor," tukasnya.Sementara itu, Lurah Puspanegara Dita Aprilia mengatakan, banjir yang kerap merendam rumah milik ratusan Kepala Keluarga (KK) di Kelurahan Puspanegara, Kecamatan Citeureup, menjadi bencana tahunan setiap hujan turun," Banjir yang paling parah terjadi pada awal pekan lalu, ketinggian air mencapai 120 sentimetwr merendam rumah warga," ujar dia.Bencana banjir ini rutin terjadi, akibat luapan air sungai Cibeber yang membentang sepanjang 1 kilometer membelah kampung, dan sungai ini sudah mengalami pendangkalan akibat sedimentasi serta disejumlah titik terjadi penyempitan atau bottle neck. "Jangankan hujan deras, tapi hujan ringan saja kampung sudah tergenang banjir karena luapan air sungai," jelasnya.Berdasarkan hasil kajian dari sejumlah kontraktor di PT Indocement, sedentasi yang terjadi di sungai tersebut sudah sangat parah. Jika berdasarkan perhitungan volume lumpur dan sampah yang harus diangkat untuk melakukan normalisasi sungai sebanyak 1600 meter kubik," Ada 1600 meterkubik lumpur dan sampah yang harus diangkat dari sungai atau setara dengan 400 truk agar aouran sungai kembali normal," kata dia.Untuk melakukan normalisasi tersebut, pihaknya tidak bisa hanya dilakukan secara manual akan tetapi menggunakan alat berat. "Kami sudah meminta bantuan pada BPBD untuk nolmalisasi tapi belum ada respon, makanya kami berterimaksih pada perusahaan telah membambantu mendatangkan alat beray berikut operatornya untuk mengangkat sedimentasi sungai yang dangkal," ujarnya.Bahkan agar tidak terjadi banjir tahunan, akibat adanya penyempitan badan sungai, pihak kelurahan Puspanegara dan Kecamatan Citeureup membongkar satu bangunan pabrik tahu yang berada tepat dibelokan dan bahu sungai. "Kami juga membongkar bangunan pabrik tahu karena berada dibahu sungai," tandasnya.

Rekomendasi