Analisa pengamat soal pelibatan wanita dan anak dalam teror bom di Surabaya
Merdeka.com - Dalam aksi teror bom di Surabaya akhir dan awal pekan kemarin, ada keterlibatan perempuan dan anak-anak serta remaja. Sebelumnya dalam beberapa aksi teror di Indonesia, pelakunya adalah laki-laki dewasa.
Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia, Solahudin menilai, salah satu tujuan kelompok teroris ini mengajak perempuan dan anak-anak ialah untuk memprovokasi kelompok ekstremis lainnya. Mereka ingin menunjukkan dan membuktikan bahwa perempuan dan anak-anak saja berani melakukan aksi tersebut, harusnya laki-laki dewasa juga demikian.
"Provokasi kepada jaringan-jaringan kelompok ekstremis itu sendiri. Bahasa sederhana, anak-anak saja berani, perempuan saja berani, masa lu kagak berani. Kira-kira begitu pesannya," kata Solahudin, dalam acara diskusi Forum Merdeka Barat 9 di Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta Pusat, Rabu (16/5).
Selain itu, perempuan dan anak-anak juga sulit diidentifikasi sebagai pelaku teror sehingga lebih mudah menembus pengamanan. Perempuan dan anak-anak jarang dicurigai sebagai pelaku teror, apalagi melibatkan satu keluarga sebagaimana pelaku bom bunuh diri di Surabaya.
Solahudin mengatakan, pelaku bom bunuh diri di Surabaya, Dita Oepriarto telah diawasi aparat selama empat bulan tapi tak ditemukan hal-hal mencurigakan. Polisi pun berhenti mengawasi. Namun ia kemudian beraksi di tiga gereja dan menewaskan 14 orang.
Solahudin mengatakan pelibatan perempuan dan anak-anak juga untuk mendapatkan ulasan atau pemberitaan media. Tujuannya ialah menakuti masyarakat dengan aksi tersebut.
"Untuk mendapat coverage media agar menghasilkan rasa takut," kata dia.
Dengan pemberitaan media yang masif tujuan para teroris dalam menyebarkan rasa takut makin meluas. Teroris, kata Solahudin, butuh media untuk menyebarkan rasa takut. Para teroris paham dengan pola kerja media.
"Teroris tahu dan mengerti media values dan itulah kenapa mereka memakai anak-anak dan perempuan. Kalau laki-laki dewasa meledakkan diri biasa, semua pelaku bom bunuh diri di Indonesia laki-laki dewasa. Kalau pelaku ibu dan anak-anak itu luar biasa. Baru dapat coverage (pemberitaan) yang luas. Media asing juga meliput kasus tersebut karena ini punya news value yang tinggi. Apakah itu dilakukan secara sengaja? Tentu," kata dia.
(mdk/gil)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya