Halte Transjakarta Cikoko-Stasiun Cawang menjadi viral beberapa waktu belakangan ini. Penyebabnya karena sempitnya tangga perlintasan dari dan menuju peron. Halte ini baru kembali beroperasi melayani pelanggan pada 17 Februari lalu usai direvitalisasi.
Keluhan ini mulanya dibagikan Komunitas Transportasi Indonesia Jalur5 dalam akun Twitternya @jalur5_. Dia membagikan kisah salah satu penumpang yang harus bergantian menggunakan tangga untuk menuju peron halte tersebut.
"Karena hanya muat satu orang, pengguna @pt_transjakarta di Halte Cikoko Stasiun Cawang harus saling bergantian antara yang naik dan turun. Sc @alfizull," tulis Jalur5 dikutip, Senin (27/2).
Merdeka.com mencoba untuk menengok kondisi halte tersebut secara langsung. Dari Pancoran Barat, kami menggunakan bus 9A dan turun langsung di Halte Cikoko Stasiun Cawang.
Tak jauh dari tempat turun bus, terpampang tangga sebagai satu-satunya akses untuk menuju atau keluar dari peron. Tangga tersebut memiliki lebar hampir dua ubin keramik atau sekitar 60-80 cm yang dilengkapi dengan hand railing di kedua sisi.
Dengan lebar tersebut, tak heran banyak penumpang yang mengeluh. Akses itu hanya mampu digunakan oleh satu orang secara bergantian. Jika tidak, pengguna harus memiringkan badan bila berpapasan dengan pengguna lain di tengah-tengah tangga.
Kami sampai di Halte Cikoko Stasiun Cawang sekitar pukul 09.30 WIB. Meskipun tangga tak terlalu ramai, para penumpang terlihat antre jika ingin mengkases tangga tersebut.
Terdapat dua tangga yang sempit. Dua tangga akses peron sempit tersebut berada di kedua arah, yaitu arah Pinang Ranti dan Pancoran Barat. Meskipun demikian, tempat menunggu bua ataupun Jembatan Penyebrangan Orang (JPO) sudah terlihat lebih luas dan nyaman dibanding sebelumnya.
Meskipun demikian, bisa dibayangkan kepadatan yang terjadi jika di jam-jam sibuk seperti waktu berangkat atau pulang kerja. Ditambah pula, halte ini merupakan halte yang terintegrasi dengan Stasiun KRL Cawang dan LRT Cikoko.
Seorang perempuan berusia sekitar 40 tahun yang ingin menuju Kampung Rambutan sempat mengobrol dengan merdeka.com. Dia bercerita, setiap hari mengakses halte Transjakarta ini.
"Ini sradag-sredug (tergesa-gesa) saja orang kenapa ya? Ini (sekarang) kalau sepi, kalau ramai ngantre gantian masuknya kan ada yang ngalah ada yang kagak," ujarnya.
Tak hanya itu, dia juga mengeluhkan lift yang belum beroperasi. Menurutnya, hal tersebut yang membuat penumpang semakin menumpuk.
"Liftnya belum nyala, sama saja itu parah. Kapan ya liftnya bisa?" katanya.
Berdasarkan pantauan, memang masih ada beberapa pekerja yang sedang menuntaskan pengerjaan revitalisasi. Salah satu petugas yang di sana menjelaskan, jembatan menuju stasiun KRL masih belum tuntas sehingga penumpang harus turun keluar dari halte terlebih dahulu. Tak hanya itu, terlihat tiga unit lift yang masih dalam proses pengerjaan.
Advertisement
Advertisement
Kepala Divisi Sekretaris Korporasi dan Humas PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) Apriastini Bakti Bugiansri mengatakan, Halte Cikoko Stasiun Cawang memiliki kapasitas pelanggan untuk kedua arah sebanyak 354 orang saat jam lenggang dan 708 orang pelanggan di jam sibuk.
"Halte Cawang Cikoko merupakan halte dua tingkat yang dilengkapi dengan fasilitas penunjang seperti lift," kata Apri kepada merdeka.com.
Ketika ditanya kapan lift dapat beroperasi, ia justru meminta pelanggan untuk bersabar. "Masih proses pengerjaan. Mohon bersabar," ucap Apri.
Lebih lanjut, dia buka suara terkait sempitnya tangga perlintasan tersebut. Dia menjelaskan bahwa lahan halte tersebut tak luas sehingga tidak mungkin untuk mengambil ruas jalan di sana.
"Kami mohon maaf ya. Memang halte ini lahannya sempit sekali dan kita tidak punya tempat untuk bergerak begitu. Tidak mungkin kurangi lebarnya (jalan) kemudian jalan tol yang tidak mungin kita bisa mengurangi juga. Memang lahan yang eksisting seperti itu. Memang belum semua fasilitas kita berfungsi saat ini seperti lift," ujar Apri.
Apri juga menyebut halte ini didesain inklusif yang bertujuan menampung seluruh kebutuhan penumpang.
"Kita berusaha mendesain halte ini tetap bisa inklusif artinya bisa melayani semua kebutuhan pelanggan kita dari berbagai kalangan dengan berbagai kendala yang ada," kata Apri.
Akhir kata, Apri berharap Halte Cikoko Stasiun Cawang dapat mempermudah masyarakat berpindah dari satu moda ke moda transportasi lainnya.
“Kemudahan bertransportasi yang aman dan nyaman adalah fokus kami. Dengan itu diharapkan dapat mendorong perpindahan dari kendaraan pribadi menggunakan transportasi publik,” tambahnya.
Advertisement