Rusia Berencana Produksi 200 Juta Dosis Vaksin Covid-19 Akhir Tahun Ini

Rusia berharap dapat menyelesaikan uji coba vaksin virus corona pada Agustus mendatang dan bisa memproduksi 200 juta dosis dengan mitra asing pada akhir tahun ini.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
Rusia Berencana Produksi 200 Juta Dosis Vaksin Covid-19 Akhir Tahun Ini
Presiden Rusia Vladimir Putin. Sumber Foto: AFP

Rusia berharap dapat menyelesaikan uji coba vaksin virus corona pada Agustus mendatang dan bisa memproduksi 200 juta dosis dengan mitra asing pada akhir tahun ini. Hal ini disampaikan Kepala Dana Investasi Langsung Rusia (RDIF) pada Senin.

Lembaga yang mengelola dana sekitar USD10 miliar atau sekitar Rp 148 triliun ini bekerja sama dengan lembaga penelitian pemerintah yang menangani beberapa proyek vaksin di negara itu.

Kepala Eksekutif RDIF, Kirill Dmitriev mengatakan, pihaknya berharap proyek itu akan menerima izin bulan depan untuk memulai produksi, setelah fase pertama uji coba vaksin selesai pekan lalu.

"Segera setelah itu kami berencana untuk memulai produksi massal," kata Dmitriev dalam sebuah pernyataan di portal anti-virus corona Rusia, dilansir Alarabiya, Selasa (21/7).

"Produksi massal vaksin ini dapat menghentikan potensi 'gelombang kedua' pandemi," lanjutnya.

Dia mengatakan Rusia akan memproduksi 30 juta dosis vaksin pada akhir tahun, di mana "mitra internasional di seluruh dunia" bergabung sehingga totalnya menjadi 200 juta dosis vaksin.

Vaksin dari Lembaga Penelitian Gamaleya Bidang Epidemiologi dan Mikrobiologi sedang menjalani uji coba pada relawan militer dan sipil.

Vaksin itu didasarkan pada adenovirus manusia, virus flu. Dmitriev mengatakan tahap kedua uji coba akan berakhir pada 3 Agustus.

"Setelah itu, uji coba tahap ketiga akan dimulai di Rusia dan beberapa negara," ujarnya, seraya menambahkan Turki, Uni Emirat Arab dan negara lainnya akan terlibat.

Dia mengatakan, vaksin berbasis vektor adenoviral telah dikembangkan sejak 1980-an dan umumnya aman.

Dmitriev mengatakan dia sendiri telah divaksinasi dan telah mengembangkan "kekebalan stabil" 20 hari setelah suntikan pertama.

Pekan lalu Inggris, AS dan Kanada mengatakan kelompok peretasan "hampir pasti" terkait dengan intelijen Rusia telah melakukan serangan yang bertujuan untuk mencuri penelitian vaksin di negara tersebut. Tudingan itu kemudian dibantah Moskow.

Rekomendasi