Polisi di Minnesota Tembak Mati Pemuda Kulit Hitam karena Langgar Lampu Merah

Seorang kepala kepolisian di pinggiran kota Minneapolis menyampaikan seorang petugas yang menembak dan menewaskan seorang pemuda kulit hitam saat lampu merah bermaksud menggunakan Taser atau senjata kejut listrik tapi secara keliru menembakkan pistol.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
Polisi di Minnesota Tembak Mati Pemuda Kulit Hitam karena Langgar Lampu Merah
Aktivis melintas di hadapan polisi saat protes kematian Daunte Wright. ©Nicholas Pfosi/Reuters

Seorang kepala kepolisian di pinggiran kota Minneapolis menyampaikan seorang petugas yang menembak dan menewaskan seorang pemuda kulit hitam saat lampu merah bermaksud menggunakan Taser atau senjata kejut listrik tapi secara keliru menembakkan pistol.

Kepala Kepolisian Brooklyn Center, Tim Gannon, memaparkan insiden yang menewaskan Daunte Wright (20), dan memicu terjadinya unjuk rasa dan kerusuhan.

Departemen kepolisian merilis cuplikan video dari kamera tubuh yang menunjukkan seorang petugas polisi berteriak, “Taser, Taser, Taser”, dan kemudian, “Sial, saya menembaknya”.

“Saat saya menonton video itu dan mendengar perintah petugas, keyakinan saya bahwa petugas tersebut bermaksud menggunakan Taser mereka tapi malah menembak Wright dengan sebuah peluru,” jelas Gannon, dikutip dari The Financial Times, Selasa (13/4).

Petugas polisi itu menembak Wright sekitar pukul 14.00 pada Minggu di sebuah jalan di Brooklyn Center, menurut penegak hukum dan pejabat lokal. Brooklyn Center berada sekitar 20 menit berkendara ke utara dari gedung pengadilan pusat kota Minneapolis di mana Derek Chauvin menjalankan sidang kematian George Floyd, pria kulit hitam yang meninggal tahun setelah ditindih dengan lutut selama hampir sembilan menit.

Departemen Kepolisian Brooklyn Center menyampaikan, penembakan terjadi ketika para petugas, yang menghentikan Wright karena melanggar lampu merah, berusaha menilangnya.

Ibu Daunte, Katie Wright, menyampaikan kepada wartawan, putranya menghubunginya saat dia meminggirkan kendaraannya.

“Saya dengar petugas polisi mengatakan, letakkan teleponnya dan keluar mobil,” ujarnya.

“Saya dengar cekcok, dan saya dengar seorang polisi mengatakan, ‘Daunte, jangan kabur’, dan petugas lain mengatakan, “Daunte, letakkan teleponnya’, dan tutup. Sekitar semenit kemudian, saya menelpon dan pacarnya menjawab, yang juga penumpang di dalam mobil, dan mengatakan dia ditembak.”

Departemen kepolisian menyampaikan Daunte masuk kembali ke dalam mobilnya dan seorang petugas menembaknya. Mobil itu berjalan beberapa blok sebelum menabrak kendaraan lain.

Setelah penembakan itu, sekitar 100 orang berkumpul di TKP, kata Komisioner Keamanan Masyarakat Minnesota, John Harrington. Penegak hukum meminta mereka membubarkan diri, dan mereka mematuhi.

Sekitar 200 orang kemudian berbaris menuju Departemen Kepolisian Brooklyn Center hari itu. Beberapa orang melempar batu dan benda lain ke polisi. Kerumuman kedua berkumpul di pusat perbelanjaan Shingle Creek Crossing.

Sekitar 20 toko dijarah. Polisi kemudian merespons dengan gas air mata, granat setrum, dan peluru karet, menurut unggahan media sosial para jurnalis dan aktivis di TKP.

Biro Penahanan Kriminal Minnesota sedang menyelidiki penembakan ini. Harrington menyampaikan, terlalu dini untuk melontarkan komentar apapun terkait insiden tersebut daripada yang dilakukan biro tersebut.

Pada Senin, Presiden AS Joe Biden menyampaikan telah menonton cuplikan kamera tubuh dan mendoakan keluarga Wright, walaupun dia belum berbicara dengan mereka.

“Kita harus mendengar ibunya Daunte, yang menyerukan damai dan tenang,” ujarnya.

Rekomendasi