Korea Selatan dan Amerika Serikat akan melanjutkan latihan gabungan militer yang melibatkan puluhan ribu tentara usai Olimpiade Musim Dingin Pyeongchang digelar. Hal itu diungkapkan oleh seorang pejabat pertahanan Korsel.
"Meskipun terlalu dini untuk mengungkapkan tanggal pasti latihan gabungan ini, hal itu akan dilakukan setelah Olimpiade," kata Choi Hyun-soo, juru bicara Kementerian Pertahanan Nasional Korea Selatan kepada wartawan, dikutip dari CNN, Jumat (26/1).
Sebelumnya, AS dan Korsel sepakat menunda latihan gabungan itu karena untuk pertama kali dalam dua tahun, Korsel dan Korea Utara terlibat pembicaraan terkait perhelatan olimpiade.
Latihan yang diberi kode nama Key Resolve dan Foal Eagle dan dilakukan tiap tahun pada Maret dan April seringkali mendapat respon sengit dari rezim. Bahkan Korut pun membalasnya dengan meluncurkan beberapa uji coba rudal dan latihan artileri besar-besaran pada akhir April lalu.
Pengumuman tentang kelanjutan latihan gabungan ini dibuat saat hubungan antara Korsel dan Korut tampak mulai mencair. Kedua negara sepakat untuk berada di bawah satu bendera dalam acara pembukaan Olimpiade Musim Dingin.
Bahkan, Korut pun sempat menyerukan warganya di dalam maupun di luar negeri untuk bersatu. Melalui media pemerintah, Korut mengajak agar semua warga Korut dan Korsel sering melakukan kontak, perjalanan, kerja sama, dan berbagai macam pertukaran lain secara luas untuk menghilangkan kesalahpahaman dan ketidakpercayaan satu sama lain selama ini.
"Mari kita melakukan dorongan energik untuk meredakan ketegangan militer yang berlarut-larut dan menciptakan iklim damai di Semenanjung Korea. Kami yakin bisa 'menghancurkan' semua tantangan agar bangsa bisa disatukan kembali," demikian pernyataan media KCNA.
Namun secara teknis, kedua negara memang tidak pernah menandatangani perjanjian damai sejak memulai permusuhan pada 1953 silam.