Silvan Shalom, Wakil Perdana Menteri yang sekaligus merangkap jabatan sebagai Menteri Dalam Negeri Israel, mengundurkan diri Senin (21/12) pagi waktu setempat. Sepekan terakhir, Shalom diserang pemberitaan miring terkait dugaan pelecehan seksual serta penyerangan seorang perempuan.
"Dipengaruhi segala tekanan ini, saya memutuskan mengundurkan diri dari posisi saya sebagai menteri dan anggota parlemen," ujar Shalom dalam pernyataan persnya, seperti dikutip Stasiun Televisi Al Arabiya.
Media Israel, Haaretz, pekan lalu memberitakan beberapa perlakuan bejat Shalom yang bersumber pada kesaksian mantan pegawainya. Salah satu pengakuan yang dimuat berasal dari seorang wanita yang dipaksa Shalom melakukan seks oral 10 tahun lalu.
Shalom dituding melakukan pelecehan dan kekerasan seksual memanfaatkan kekuasaannya sebagai pejabat. "Korban tidak bisa melaporkan kasus ini karena adanya undang-undang pembatasan penyidikan pidana terhadap pejabat di Israel," tulis Haaretz.
Diketahui, setelah pernyataan pengunduran diri Shalom diumumkan, Jaksa Agung Israel segera memberi mandat kepada polisi guna menyelidiki segala kesaksian yang menyudutkan Shalom.
Tak cuma Haaretz, surat kabar Jerusalem Post juga memuat info mengenai skandal seks politikus dari Partai Likud itu. Dilaporkan ada 11 perempuan yang belakangan mengaku korban kekerasan seksual sang menteri.
Atasan Shalom di Partai Likud, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, sampai sekarang belum memberi keterangan pers. BBC mengatakan untuk mengisi posisi Wakil PM dan Menteri Dalam Negeri, Partai Likud akan mengajukan Amir Ohana, seorang politikus yang secara terbuka mengaku homoseksual.
Ini adalah kesekian kalinya politikus Israel terbeli skandal pelecehan seksual. Pada November lalu, anggota parlemen Israel (Knesset) bernama Yinon Magal, mundur karena laporan pelecehan perempuan.
Sedangkan pada 2011, mantan Presiden Israel Moshe Katsav dipenjara tujuh tahun karena terbukti memperkosa gadis di bawah umur.