Di Balik Tetesan Air Mata Kim Jong-un, Dinilai Ada Strategi Propaganda

Saat parade militer akhir pekan kemarin ketika memamerkan rudal balistik terbesar antar benua dan terbaru Pyongyang, suara Kim bergetar saat dia menyampaikan "air mata syukur" atas usaha rakyatnya.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
Di Balik Tetesan Air Mata Kim Jong-un, Dinilai Ada Strategi Propaganda
Kim Jong Un pidato di parade militer. ©2020 KRT TV via REUTERS

Kerap terlihat semringah saat peluncuran rudal atau memimpin rapat resmi, pemimpin Korea Utara Kim Jong-un menampakkan citra berbeda: terharu dan menyesal.

Saat parade militer akhir pekan kemarin ketika memamerkan rudal balistik terbesar antar benua dan terbaru Pyongyang, suara Kim bergetar saat dia menyampaikan "air mata syukur" atas usaha rakyatnya.

Dia berulang kali dan terang-terangan berterima kasih kepada warganya dan militer atas kesetiaan mereka dan karena tetap sehat di tengah pandemi global virus corona, yang dia klaim tak menimbulkan satu kasus pun di Korea Utara.

Kim menutup perbatasan negaranya pada Januari untuk menghentikan virus, sebuah langkah yang menurut para analis telah memperburuk efek sanksi internasional yang dijatuhkan atas program senjata terlarang Korea Utara.

Permintaan maaf kedua

Kamera berpindah setelah Kim memuji para relawan yang membantu upaya pemulihan bencana, kemudian kembali menyorot Kim yang meletakkan sapu tangannya dan memasang kembali kacamatanya, seolah-olah dia baru saja mengusap matanya.

Pada satu titik, dia meminta maaf karena gagal memenuhi harapan rakyatnya.

"Rakyat kita telah memberikan kepercayaan, setinggi langit sedalam lautan, pada saya, tapi saya telah gagal untuk selalu memenuhinya dengan memuaskan," jelasnya, dikutip dari South China Morning Post, Rabu (14/10).

"Saya sungguh meminta maaf untuk itu," lanjutnya.

Itu adalah permintaan maaf keduanya dalam beberapa pekan terakhir: menurut Istana Kepresidenan Korea Selatan di Seoul, partai berkuasa Korea Utara menyampaikan pada September bahwa Kim meminta maaf atas pembunuhan seorang warga Korea Selatan di perairan Pyongyang.

Dan dalam parade akhir pekan kemarin, Kim juga berjanji pada rakyatnya untuk lebih baik lagi.

“Saya dengan sungguh-sungguh bersumpah sekali lagi di tempat ini bahwa saya akan hidup sesuai dengan kepercayaan orang-orang tanpa gagal bahkan jika tubuh saya tercabik-cabik dan hancur berkeping-keping,” ucapnya.

Strategi propaganda

Dalam beberapa hal, sentimen tersebut sesuai dengan ortodoksi Korea Utara: Pyongyang secara konsisten menggambarkan keluarga Kim yang telah memimpin selama lebih dari 70 tahun sebagai pengorbanan diri yang heroik yang mengabdikan hidup mereka untuk melayani rakyatnya.

Tapi pengakuan atas kesalahan pribadi sangat kontras dengan propaganda kakeknya Kim Il Sung, pendiri Korea Utara.

Di bawah kepemimpinan Kim, yang mewarisi kekuasaan ketika ayahnya Kim Jong Il meninggal pada 2011, para pengamat mengatakan Korea Utara telah mengambil beberapa langkah kecil dari kultus kepribadian di masa lalu.

Mantan analis pemerintah AS di Korea Utara, Rachel Lee, menggambarkan parade akhir pekan menyimpang dari norma.

Lee mengatakan, pidatonya adalah "tentang rakyat" dan "dikalibrasi dengan hati-hati agar seperti asli dan dapat diterima".

“Ini adalah contoh terbaru dari perubahan strategi propaganda Korea Utara dalam menyampaikan pesan mereka dengan cara yang lebih menghibur dan menyenangkan,” katanya.

"Rudal datang lebih dulu, tapi dia tidak melupakan petani."

Para pengamat berbeda pendapat tentang ketulusan ungkapan Kim, yang rezimnya dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia yang meluas dan yang dengan kejam menegaskan cengkeramannya pada kekuasaan, terkadang bahkan menyingkirkan kerabat dekat.

“Pertama-tama dia adalah seorang politikus, itu artinya dia adalah aktor yang baik,” kata Andrei Lankov dari Korea Risk Group.

Tapi Kim "benar-benar ingin rakyatnya hidup dengan baik", tambahnya.

“Tentu saja kelangsungan hidup rezim jauh lebih penting baginya daripada kelangsungan hidup petani miskin di provinsi yang jauh,” katanya.

"Rudal datang lebih dulu, tapi dia tidak melupakan petani."

Mantan analis CIA, Soo Kim mengatakan Kim bisa saja "meneteskan air mata sebagai kompensasi kegagalannya memenuhi janji dasarnya kepada rakyatnya".

“Harapannya, tentu masyarakat akan setuju dengan tindakan ini,” ujarnya.

Di Korea Selatan, harian JoongAng menganggap tangisan Kim sebagai "air mata buaya".

Dalam editorialnya disebutkan: "Kim tiba-tiba menjadi gembira saat melihat rudal balistik antarbenua yang sangat besar dalam parade militer."

Rekomendasi