Apa Sesungguhnya Motif Rusia Dukung Maduro di Venezuela?

Tapi mengapa Kremlin sungguh peduli dengan apa yang terjadi di Caracas? Kolumnis harian the Washington Post untuk isu luar negeri Emily Tamkin membeberkan analisisnya.

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
Apa Sesungguhnya Motif Rusia Dukung Maduro di Venezuela?
maduro dan putin. ©Maxim Shemetov/Reuters

Ketika pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido dua hari lalu mengumumkan dia akan memimpin pemberontakan melawan Presiden Nicolas Maduro, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat mengatakan Maduro sedang bersiap untuk melarikan diri keluar dari negaranya. Namun Rusia menahannya untuk tidak pergi.

Kementerian Luar Negeri Rusia kemudian membantah kabar itu. menteri Luar Negeri rusia Sergei Lavrov dalam pembicaraan di telepon dengan Pompeo mengatakan 'campur tangan' AS di Venezuela adalah 'pelanggaran hukum internasional paling serius'.

"Dengan melanjutkan langkah agresif ini akan menimbulkan dampak serius," kata pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia.

"Hanya rakyat Venezuela yang berhak menentukan nasib mereka dan karena itulah dialog diperlukan antara semua kubu politik di seantero negeri, seperti yang diserukan pemerintah sejak lama."

Baik AS yang mendukung Guaido, maupun Rusia yang menyokong pemerintahan Maduro, kedua negara ini sudah sering terlibat dalam konflik di sejumlah negara, seperti di Suriah.

Tapi mengapa Kremlin sungguh peduli dengan apa yang terjadi di Caracas? Kolumnis harian the Washington Post untuk isu luar negeri Emily Tamkin membeberkan analisisnya.

Apakah semua ini masalah uang?

Menurut Tamkin, jawabannya adalah ya, tapi tidak hanya itu.

The Washington Post dalam laporannya tahun lalu menyebut Rusia memiliki jatah bagian penting dari ladang minyak Venezuela yang didapat dari pertukaran pinjaman dan talangan selama satu dekade terakhir. Venezuela menandatangani hampir separuh Citgo--perusahaan AS--yang menjadi pesaing Rosneft, perusahaan minyak negara Rusia, dengan nilai uang tunai yang dilaporkan mencapai USD 1,5 miliar.

Menurut Matthew Rojansky, pengamat Rusia sekaligus direktur Institut Kennan, dengan nilai aset Rosneft sekitar USD 20 miliar yang terdapat di Venezuela, Rusia jelas punya kekhawatiran mereka akan kehilangan semua itu jika terjadi pergantian kekuasaan.

Pengiriman minyak prabayar kepada klien Rusia juga dipakai untuk membeli tank Rusia dan senjata bagi angkatan bersenjata Venezuela.

"Mereka (Rusia) ingin tetap bercokol di Venezuela, tidak hanya hari ini, tapi sampai nanti. Mereka ingin memastikan mereka dapat uang dan investasi mereka aman," kata Moses Rendon, pengamat dari Pusat Studi Strategis dan Internasional Program Amerika kepada Washington Post.

Selain alasan uang, minyak, dan militer, ada juga alasan Kuba.

Salah satu alasan pemerintahan Trump dan pendukungnya di Kongres sangat peduli dengan Venezuela adalah Kuba yang selama ini mendukung Venezuela.

Pada era Obama, AS membuat sejarah dengan membangun kembali hubungan dengan Kuba. Di zaman Perang Dingin AS dengan Rusia, Kuba adalah sekutu Negeri Beruang Merah. Pada krisis rudal Kuba di era 1960-an, Uni Soviet menempatkan rudal nuklirnya di Kuba, ibarat di belakang halaman rumah AS.

Meski begitu saat ini bukanlah era 1960-an. Rusia juga tidak lagi menempatkan rudalnya di Kuba atau Venezuela.

"Punya koalisi yang lebih luas mungkin dinilai lebih efektif," ujar Rendon seraya menyarankan AS bisa saja meminta Brasil, Kolombia, Argentina, dan Peru untuk menyerukan agar Rusia mundur dari Venezuela.

Jadi, selain alasan uang, minyak, militer, Kuba, apa ada alasan lainnya?

Ya. "Yang terpenting, terlibat di Venezuela membuat Putin punya kesempatan untuk mencolek AS," kata Andrea Kendall-Taylor, direktur Program Keamanan Translantik di Pusat Keamanan Amerika.

"Dari kaca mata Putin, melibatkan diri di halaman belakang Washington adalah balasan terhadap keterlibatan AS selama ini di dekat perbatasan Rusia melalui NATO."

Rekomendasi