Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Tutu, si penulis buku Bahasa Korea

Tutu, si penulis buku Bahasa Korea Mustiana Lestari alias Tutu (berjilbab). 2012 Merdeka.com/Dwi Narwoko

Merdeka.com - Saat ini, demam Korea tak bisa dielakkan. Lirik lagu yang dinyanyikan Psy yang mengajak orang bergoyang dengan teriakan "Hei sexy lady... oppa Gangnam style!" menyeruak di mana-mana. Akrab di banyak telinga kita. Dan, kaki serta tangan pun bergaya bak sedang berkuda.

Korea, saat ini tak hanya berjaya dengan musik K-Pop yang membius remaja kita, juga remaja dunia. Kecuali itu, barang elektronik Korea mulai dari televisi, lemari es, mobil, bahkan ponsel asal Korea menguasai pangsa pasar dunia. Korea, jadi kiblat baru setelah Jepang.

Ingat Korea, ingat Tutu. Ya, begitulah teman-teman di redaksi merdeka.com. Mengapa? Tutu dimaksud adalah Mustiana Lestari. Dia adalah satu-satunya wartawan media yang Anda baca ini yang mahir bahasa Korea. Tutu, sejak jauh sebelum KPop ngetop dan Psy memaksa kuping kita mendengarnya, sudah keranjingan dengan segala hal yang berbau Korea sejak dulu. " Ya ndak keranjingan lah, kalau dulu emang ya. Sekarang..hmmm sudah biasa," tukasnya.

Tutu adalah modal besar bagi media kami. Terutama dalam memahami hal yang berkaitan dengan Korea. Dalam rapat untuk membuat tulisan-tulisan tentang budaya Korea beberapa waktu lalu, Tutu tentu menjadi motornya. Dia tak sekadar tahu lagu, bahasa, budaya, tapi dia juga telah menghasilkan karya buku laris: Cara Cepat Mahir Bahasa Korea.

Saking laris dan bangganya, di status BB-nya dia menulis: "Alhamdulillah cetak ulang, ayo beli-beli #jualan…:D. Buku karya Tutu bisa didapatkan di banyak jaringan toko utama. Selain menulis buku bahasa Korea, Tutu juga memberikan kursus bahasa Korea di Bekasi, dekat tempat tinggalnya. "Lagi laris manis Pak," ujarnya. Dia juga menjadi penerjamah buku-buku terbitan Elex Media yang berbahasa Korea untuk diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Diantara wartawan merdeka.com, mungkin secara fisik dia paling kecil, dan kurus lagi. Kalau melihat fisiknya, saat penerimaan wartawan baru, agak meragukan kemampuannya bisa menjadi wartawan yang baik. Dan, memang salah satu pertimbangan mengambil Tutu, adalah karena kemampuan bahasa Korea dan juga Jepang-nya. "Wah, Jepangnya sudah lupa sekarang. Gak pernah dipake."

Fisik memang bisa menipu. Meskipun kecil, Tutu oleh Koordinator Liputan Anwar Khumaini diletakkan Mabes Polri dan liputan kepolisan sekitar serta floating yang banyak bergerak. Di awal-awal, dia kelihatan kebingungan kalau diberi tugas. Apalagi di hatinya, sering tidak sesuai dengan pendapat nara sumber. Namun, setelah berjalan dua bulan, Tutu mulai menikmati. Apalagi kalau sudah disuruh liputan KPop atau tulisan budaya Korea, Tutu sudah di luar kepala. Di lapangan liputan, rekan-rekan wartawan media lain sering tanya-tanya kepadanya, artinya dalam bahasa Korea.

Perempuan kelahiran Jakarta pada Maret 23 tahun lalu itu, sebenarnya pernah kuliah di Politeknik Jakarta sebagai engineer telekomunikasi, hanya setahun. Dia pun mengambil kuliah di Universitas Indonesia, Fakultas Sastra dengan peminatan bahasa dan budaya Korea. Rupanya, di sini Tutu menemukan jati dirinya. Tercatat dia aktif di organisasi Hangugo Dongari, Saung Sastra, di kampusnya dulu.

Kalau Anda penggemar komik Korea, diantara itu penterjemahnya adalah Tutu.

Demikianlah tentang Tutu. Selamat membaca, Jal ilkeseyo! (mdk/mdk)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP