UI: Kalau Mau Turunkan Konsumsi, Harga Rokok Harus Rp70.000 per Bungkus

Rabu, 18 September 2019 17:11 Reporter : Merdeka
UI: Kalau Mau Turunkan Konsumsi, Harga Rokok Harus Rp70.000 per Bungkus Diskusi Kenaikan Cukai Rokok. Rhandana ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Pemerintah akan menaikkan tarif cukai rokok rata-rata sebesar 23 persen pada 1 Januari 2020 mendatang. Hal ini juga akan diikuti kenaikan harga jual eceran rokok hingga 35 persen.

Kebijakan ini dinilai tidak ideal. Sebab, kenaikan cukai 23 persen dan harga eceran 35 persen hanya kenaikan rata-rata.

"Itu kenaikan rata-rata yang 23 dan 35 persen bukan kenaikan minimal. Semua rokok itu kan beda-beda harganya dan produknya. Jadi, kalau ada kenaikan harga, pasti ada merek rokok yang kenaikannya cuma sedikit. Padahal, yang memiliki pangsa terbesar adalah rokok kretek mesin," ucap Wakil Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI), Abdillah Ahsan.

Dia menyebut bahwa konsumen sigaret kretek mesin (SKM) merupakan terbesar dibanding konsumen jenis rokok yang lain seperti sigaret kretek tangan (SKT). SKM golongan 1 setidaknya menguasai pangsa pasar sampai 63 persen.

Berdasarkan hal itu, Abdillah meminta pemerintah untuk menaikkan dua kali lipat untuk cukai dan harga kretek mesin. Menurutnya, ini cara yang efektif untuk menurunkan konsumsi rokok.

"SKM golongan 1 harus naik dua kali lipat karena menguasai pangsa pasar. Harga mahal tapi masih menguasai pangsa pasar berarti mereka masih mampu beli harga yang mahal. Artinya, harga mahal pun masih belum cukup untuk menekan konsumsi," ujarnya.

Jika ingin kebijakan cukai ini berjalan dengan efektif untuk menurunkan angka perokok, pemerintah harus menaikan harga rokok menjadi Rp60.000 sampai Rp70.000 per bungkus.

"Kalau mau menurunkan konsumsi itu, harga rokoknya harus Rp60.000 sampai Rp70.000. Itu baru bisa menurunkan konsumsi."

Reporter Magang: Rhandana Kamilia

Jangan Lewatkan:

Ikuti Polling Setujukah Harga Rokok Naik? Klik di Sini! [idr]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini