Trivia: Mengapa Tomat Jadi Pahlawan? Deflasi Kota Malang Dipicu Penurunan Harga Hortikultura

Terungkap! Deflasi Kota Malang sebesar 0,07% pada Agustus 2025 ternyata dipicu oleh anjloknya harga produk hortikultura seperti tomat dan cabai. Simak selengkapnya!

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Trivia: Mengapa Tomat Jadi Pahlawan? Deflasi Kota Malang Dipicu Penurunan Harga Hortikultura
Terungkap! Deflasi Kota Malang sebesar 0,07% pada Agustus 2025 ternyata dipicu oleh anjloknya harga produk hortikultura seperti tomat dan cabai. Simak selengkapnya! (Merdeka.com)

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang mengumumkan deflasi sebesar 0,07 persen secara month to month pada Agustus 2025. Penurunan harga ini menjadi kabar baik bagi daya beli masyarakat. Deflasi ini terutama disebabkan oleh melimpahnya pasokan di pasar.

Fenomena deflasi ini terjadi di wilayah Kota Malang, Jawa Timur. Kepala BPS Kota Malang, Umar Sjarifudin, menjelaskan bahwa sejumlah komoditas hortikultura menjadi pemicu utama. Ini menunjukkan dinamika pasar yang sangat dipengaruhi oleh musim panen.

Penurunan harga komoditas strategis seperti tomat dan cabai rawit memainkan peran signifikan. Kondisi ini berbeda dengan inflasi yang seringkali menjadi sorotan utama. Deflasi ini memberikan gambaran stabilitas harga di sektor pangan.

Deflasi di Kota Malang pada Agustus 2025 secara signifikan dipengaruhi oleh penurunan harga produk hortikultura. Komoditas seperti tomat, cabai rawit, dan sawi putih menjadi penyumbang terbesar. Penurunan ini mencerminkan kondisi pasokan yang berlimpah di pasar lokal.

Tomat mencatat penurunan harga paling drastis, yakni 58,64 persen, dengan andil deflasi sebesar 0,11 persen. Sementara itu, harga cabai rawit turun 37,93 persen, menyumbang 0,10 persen terhadap deflasi. Sawi putih juga mengalami penurunan 27,09 persen dengan andil 0,02 persen.

Selain komoditas utama tersebut, beberapa produk hortikultura lain turut berkontribusi pada deflasi. Kacang panjang turun 16,46 persen dan jagung manis turun 8,4 persen, masing-masing dengan andil 0,01 persen. Ketersediaan yang mencukupi akibat masa panen menjadi alasan utama di balik penurunan harga ini.

Umar Sjarifudin menambahkan bahwa panen raya telah mengembalikan harga beberapa jenis komoditas yang sebelumnya sempat melonjak. Ini menunjukkan siklus pertanian yang sehat. Kondisi ini membantu menstabilkan harga pangan di Kota Malang.

Tidak hanya produk hortikultura, beberapa komoditas lain juga memberikan andil pada deflasi Kota Malang. Jeruk mengalami penurunan harga 4,5 persen, sementara anggur turun 8,76 persen. Keduanya memberikan andil 0,01 persen terhadap deflasi.

Telur ayam ras menjadi satu-satunya bahan pangan pokok yang tercatat mengalami penurunan harga pada Agustus 2025. Komoditas ini turun 2,42 persen dengan andil 0,03 persen terhadap deflasi. Penurunan harga telur ini tentu disambut baik oleh konsumen.

Di luar sektor pangan, harga bensin atau BBM juga mengalami penurunan sebesar 0,39 persen, memberikan andil 0,02 persen pada deflasi. Sabun cair atau cuci piring juga turun 4,37 persen dengan andil 0,01 persen. Ini menunjukkan bahwa deflasi tidak hanya terbatas pada komoditas pertanian.

Penurunan harga-harga ini secara keseluruhan menciptakan suasana ekonomi yang lebih stabil bagi masyarakat Kota Malang. Ketersediaan pasokan yang memadai adalah kunci utama. Pemerintah dan petani berperan penting dalam menjaga stabilitas ini.

Deflasi Kota Malang sebesar 0,07 persen secara month to month pada Agustus 2025 menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan tingkat regional dan nasional. Deflasi di Provinsi Jawa Timur tercatat 0,10 persen. Sementara itu, deflasi nasional berada di angka 0,08 persen.

Angka ini menempatkan Kota Malang dalam posisi yang relatif menguntungkan dalam mengendalikan harga. Meskipun terjadi deflasi, inflasi tahun kalender Agustus 2025 terhadap Desember 2024 (year to date) tercatat 1,37 persen. Ini menunjukkan akumulasi inflasi dari awal tahun.

Secara tahunan, inflasi Agustus 2025 terhadap Agustus 2024 (year on year) adalah 2,13 persen. Angka ini memberikan gambaran tren inflasi jangka panjang. Meskipun ada deflasi bulanan, tekanan inflasi tahunan masih tetap ada.

Stabilitas harga di Kota Malang patut diapresiasi, terutama mengingat peran penting sektor pertanian. Kebijakan yang mendukung ketersediaan pasokan dan distribusi yang lancar sangat krusial. Ini membantu menjaga daya beli masyarakat di tengah fluktuasi ekonomi.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi