Tren Permintaan Perhiasan di Indonesia Turun 27% Tahun 2025, Dua Hal Ini Jadi Pemicunya

Namun nilai total permintaan perhiasan emas justru meningkat 18% secara tahunan menjadi USD 172 miliar.

Tira Santia
Oleh Tira Santia - Reporter
Tren Permintaan Perhiasan di Indonesia Turun 27% Tahun 2025, Dua Hal Ini Jadi Pemicunya
Tren Permintaan Perhiasan di Indonesia Turun 27% Tahun 2025, Dua Hal Ini Jadi Pemicunya (Merdeka.com)

World Gold Council (WGC) mencatat tren permintaan perhiasan di Indonesia mengalami penurunan 27% menjadi 16,6 ton. Hal ini seiring serangkaian rekor harga tertinggi, permintaan perhiasan global melemah sepanjang tahun sesuai perkiraan turun 18% dibandingkan tahun 2024.

Namun nilai total permintaan perhiasan emas justru meningkat 18% secara tahunan menjadi USD 172 miliar, menegaskan relevansi emas bagi konsumen dalam jangka panjang.

"Tren global ini juga tercermin di Indonesia, di mana permintaan perhiasan turun 27% menjadi 16,6 ton," kata Head of Asia Pacific (ex China) dan Global Head of Central Banks World Gold Council, Shaokai Fan dalam Konferensi Pers Laporan Gold Demand Trends Tahun 2025, di Jakarta, Rabu (4/2).

Penurunan tren permintaan perhiasan di Indonesia ini disebabkan tekanan harga dan keterbatasan daya beli ketimbang menghilangnya minat konsumen terhadap emas terbukti dengan total belanja untuk perhiasan emas yang justru naik 5% secara tahunan.

Di sisi lain, permintaan perhiasan emas justru mengalami penurunan. Senior Research Lead APAC World Gold Council, Marissa Salim mengungkapkan, konsumen kini cenderung memilih perhiasan dengan kadar karat lebih rendah seperti 14 karat dibandingkan perhiasan emas berkadar tinggi.

Perhiasan dengan kadar karat lebih rendah dinilai lebih terjangkau dan mudah diperoleh di tengah kenaikan harga emas.

"Dari sisi perhiasan emas memang juga menurun, dan saat ini dari sisi pembeli mereka cenderung lebih berminat terhadap perhiasan yang memiliki kadar karat yang lebih rendah misalnya 14 karat. Alasannya adalah krena kategori tersebut lebih terjangkau dan mudah didapat," ujar dia.

Sementara itu, permintaan emas batangan di Indonesia meningkat hingga 29 persen secara tahunan. Kenaikan ini terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tekanan pelemahan nilai tukar mata uang.

"Saat ini permintaan naik 29 persen terlepas dari ketidakpastian ekonomi dan pelemahan mata uang yang terjadi,” ujar Mariasa.

Hal tersebut mencerminkan bagaimana pasar emas Indonesia beradaptasi terhadap situasi ekonomi yang penuh volatilitas. Investor dinilai semakin mengandalkan emas sebagai instrumen lindung nilai atau safe haven.

Rekomendasi