Tangani Pandemi, Pemerintah Masih Andalkan Kebijakan Counter Cyclical Tahun ini
Merdeka.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan masih mengandalkan penerapan counter cyclical sebagai upaya menjaga belanja negara untuk bisa meminimalkan kerusakan akibat covid-19.
"Salah satu instrumen yang paling penting adalah APBN dan counter cyclical. APBN berarti kita harus melakukan dan menjaga belanja negara untuk bisa meminimalkan damage/kerusakan akibat covid-19," kata Sri Mulyani, dalam Webinar Pascasarjana UPH - Optimalisasi Penerimaan Pajak Melalui Penerapan Sin Pajak Demi Kemandirian Fiskal Indonesia, Jumat (28/5).
Counter cyclical artinya mengambil pendekatan sebaliknya, yaitu mengurangi pengeluaran dan menaikkan pajak selama ekonomi sedang booming, serta meningkatkan pengeluaran dan memangkas pemungutan pajak ketika sedang dalam masa resesi.
Dengan kebijakan counter cyclical tersebut digunakan untuk penanganan dampak pandemi baik untuk bidang kesehatan, membantu masyarakat yang paling rentan, membantu usaha kecil menengah, membantu dunia usaha dan tetap menjaga kegiatan ekonomi.
"Karena lebih dari setahun ini banyak dari kegiatan masyarakat yang berubah dan itu menyebabkan perubahan yang sangat drastis dan fundamental bagi banyak dunia usaha," ujarnya.
Kendati begitu, Pemerintah tetap berusaha untuk memulihkan perekonomian dengan memberikan dukungan pada masyarakat dan memprioritaskan penanganan covid-19. Dengan adanya pandemi covid-19, APBN keuangan negara mengalami perubahan dan mengalami tekanan yang sangat besar bahkan syok yang sangat berat akibat covid-19. Sehingga Pemerintah harus melakukan suatu fondasi baru di dalam menghadapi covid-19 ini.
Salah satunya, Presiden Joko Widodo telah mengeluarkan Perpu nomor 1 tahun 2020 yang menjadi undang-undang nomor 2 tahun 2020 sebagai landasan bagi Pemerintah untuk merespon kondisi konflik pandemi yang luar biasa ini.
"Kalau kita lihat dampak covid yang begitu luas secara global, kontraksi ekonomi secara global hampir semua negara di dunia mengalaminya, hanya sedikit negara yang tidak mengalami kontraksi dan kontraksinya pun bervariasi begitu dalam," pungkasnya.
Reporter: Tira Santia
Sumber: Liputan6.com
(mdk/azz)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya