Singapura gerah pensiunan cari istri dan beli rumah di Batam

Sabtu, 15 Februari 2014 16:04 Reporter : Ardyan Mohamad
Singapura gerah pensiunan cari istri dan beli rumah di Batam Suasana di lokasi wisata Patung Merlion, Singapura. ©2012 Merdeka.com/Debby Restu Utomo

Merdeka.com - Rumah bertingkat, berhiaskan ornamen berbahan mahal, dilengkapi halaman luas, banyak terlihat di kawasan Dutamas, Batam Centre. Pemandangan serupa juga nampak di Bukit Indah Sukajadi. Bagi orang luar, ekonomi Batam - terlebih sektor properti - terkesan maju pesat.

"Tapi jangan salah, itu banyak yang beli atau membangun orang Singapura," kata Agus, pria berprofesi sebagai pengemudi rental kepada merdeka.com di Batam, Jumat (14/2).

Pada periode 2000-an, semakin ramai tren warga negara Singapura membelanjakan uang pensiunnya ke wilayah Indonesia, khususnya di Kota Batam. 

Ini imbas dari banyaknya warga usia tak lagi produktif memanfaatkan dana tabungan mereka di Central Provident Fund (CPF). Bila dibandingkan dengan Indonesia, program ini menyerupai Jamsostek atau Taspen. Para pensiunan itu menikmati jerih payah mereka setelah bertahun-tahun dipotong hingga 20 persen dari penghasilan bulanan.

"Orang Singapura mulai ramai bangun rumah di sini itu seingat saya di pertengahan 1990-an," kata Agus menambahkan.

Fenomena itu dibenarkan oleh warga negara Singapura, Jufri (27), saat bertemu merdeka.com di Batam. Tak cuma membangun rumah mewah di salah satu pulau utama Provinsi Kepulauan Riau tersebut, pensiunan lelaki asal Negeri Singa banyak pula yang mencari istri di Indonesia.

"Masalah ini sedang jadi urusan besar di Singapura. Pemerintah kami tidak ingin orang-orang tua itu berfoya-foya berlebihan," ujarnya. 

Iuran CPF dipotong dari gaji setiap warga negara Singapura yang bekerja. Program jaminan sosial dijalankan sejak 1955 ini mendekati pemaksaan. Bila ada warga negara kota itu tak mau ikut serta, siap-siap saja dikenakan pajak penghasilan hingga 60 persen.

Kini, pemerintah Singapura menaikkan lagi batas penarikan dana CPF ke usia 55. Artinya, sebelum mencapai umur tersebut, seorang warga tidak bisa memanfaatkan iuran pensiun untuk kepentingan lain.

Memang, ketika mereka pensiun, dana yang diperoleh besar. Beberapa mungkin mendadak kaya raya karena memiliki 1 miliar Dolar Singapura di rekening berkat CPF. 

"Itulah masalahnya, mereka merasa punya uang banyak. Makanya kemudian ke Batam cari istri muda, atau beli rumah. Pemerintah Singapura khawatir di usia 60 atau 70, orang-orang itu tak lagi punya uang cukup untuk pensiun," kata Jufri.

Lucunya, banyak pula kasus pria Singapura yang sudah beristri dan berumur, nekat mencari perempuan simpanan di Batam. Lagi-lagi berkat kelebihan dana pensiun. Mereka rela mentransfer ribuan dolar dan memanjakan wanita idaman lain itu. Warga Batam biasa menyebut mereka 'apek-apek' (om-om).

Demikian yang banyak disaksikan Agus. Dia mengaku, pemandangan seperti itu mudah disaksikan di kawasan Nagoya, Batam. Banyak wanita yang glamor, tapi tak jelas pekerjaannya. "Apakah banyak yang seperti itu memang simpang siur, tapi saya memang mengenal beberapa orang yang jadi simpanan warga Singapura," akunya.

Di Negeri Singa sendiri, isu pemanfaatan dana CPF sedang ramai dibicarakan, di jejaring sosial, blog, sampai situs jurnalisme warga. Lembaga swadaya dan penduduk yang peduli haknya berharap skema dana pensiun itu diubah lebih fleksibel. 

Alasannya, biaya hidup di Singapura semakin tidak masuk akal. Dana itu seharusnya bisa dipakai untuk mencicil angsuran rumah, atau digunakan sewaktu-waktu, bila ada keadaan mendesak.

Belum lagi desakan supaya ada penyamaan bunga bagi pekerja berusia tua. Gabungan Serikat Pekerja Singapura (NTUC) berharap suku bunga untuk pekerja dewasa bisa disamakan dengan anak muda, di kisaran 36 persen. 

Soalnya suku bunga yang dipakai pemerintah negeri jiran ini dianggap tak lagi sesuai dengan perkembangan inflasi. Harga flat apartemen lima kamar berkualitas standar saja sudah setara Rp 5 miliar. Artinya, dana CPF bisa jadi tak mencukupi untuk hidup layak selepas berhenti bekerja.

Akan tetapi, desakan reformasi CPF bagi sebagian warga tidak disetujui. Sama seperti pandangan pemerintah Singapura, ada ketakutan duit CPF banyak mengalir ke negara lain, ketika penarikan uangnya dibikin fleksibel.

"Kalau CPF tidak dikontrol ketat, nanti akan banyak warga Singapura menaruh uangnya begitu saja di Batam," kata Steven Kho, salah satu warga, di laman tremeritus.com (13/2).

Seakan tak peduli sedang ada ketegangan diplomatik para elit terkait penamaan Kapal Perang Usman Harun milik TNI Angkatan Laut, denyut kehidupan Batam nyatanya punya tempat tersendiri di hati warga Singapura.

Pekan lalu pun, bersamaan saat media massa di Indonesia ramai membahas panasnya hubungan diplomatik, dikaji pembentukan wilayah ekonomi khusus antara Kamar Dagang Singapura dengan badan Pengusaha Batam. Kedua perwakilan pemerintah pun bertemu membahas Working Groups pengembangan Batam-Bintan-Karimun awal pekan lalu.

Itu sebabnya, Gubernur Kepulauan Riau Muhammad Sani, berkelakar soal isu politik akibat kapal perang ini. Dia menolak bila harus merusak hubungan baik warga wilayahnya dengan penduduk Singapura.

"Bisnis tetap bisnis, yang sibuk kan (TNI) Angkatan Laut dengan Usman Harun-nya. Kita sibuk dengan bisnisnya," kata Sani di Pulau Sambu, Rabu (12/2) saat meresmikan fasilitas PT Pertamina.

Batam terbukti punya hubungan kedekatan khusus dengan Singapura. Tak cuma dari segi geografis, ekonomi, juga sampai urusan perempuan simpanan. [ard]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini