Perjalanan penuh makna lahir dari Kelompok Wanita Tani (KWT) Bina Tani Mysari Pala yang membuktikan bahwa kaum hawa di tingkat lokal mampu menjadi penggerak ekonomi keluarga.
Berawal dari kepedulian terhadap limbah daging buah pala yang selama ini terbuang percuma, pada ibu rumah tangga ini mengubahnya menjadi produk bernilai jual tinggi. Ketekunan selama satu dekade tidak hanya membuahkan produk berkualitas, tetapi juga mengangkat kemandirian finansial perempuan desa.
Langkah para perempuan ini kian melesat setelah menjalani kerjasama strategis dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI). Melalui program pemberdayaan yang inklusif, BRI membuka jalan bagi para ibu rumah tangga untuk meningkatkan kualitas diri dan usaha, mulai dari pendampingan kelembagaan, pelatihan pemasaran digital, hingga modernisasi mesin produksi. Dukungan nyata ini berhasil mengubah proses kerja yang semula manual menjadi canggih, sekaligus melipatgandakan pendapatan dan memperluas jangkauan pasar hingga ke berbagai ajang pameran.
Advertisement
Berawal dari Daging Buah Pala yang Tak Dimanfaatkan
Kisah KWT Bina Tani Mysari Pala bermula pada 2015. Saat itu, wilayah mereka terpilih mengikuti program Peranan Wanita Menuju Keluarga Sehat Sejahtera (P2WKSS). Salah satu rangkaian program tersebut mengharuskan kelompok warga menghadirkan produk olahan khas kampung.
Momentum itu mendorong para anggota melihat lebih dekat potensi yang tersedia di sekitar mereka. Ketua KWT Bina Tani Mysari Pala, Nurhasanah, kemudian menyadari bahwa banyak tanaman pala tumbuh di wilayahnya. Namun, masyarakat umumnya hanya mengambil biji pala untuk dijual kepada pengepul, sedangkan daging buahnya belum dimanfaatkan secara maksimal.
“Jadi saat itu saya berpikir karena di wilayah kami banyak tanaman pala dan daging buahnya itu tidak dimanfaatkan secara maksimal karena hanya diambil bijinya saja, kemudian dijual ke pengepul. Dari situ terpikir untuk membuat manisan pala,” ucap Nurhasanah.
Berbekal semangat gotong royong dan ketersediaan lahan demplot, para perempuan desa itu mulai mengolah daging buah pala menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Manisan pala menjadi langkah awal yang kemudian membuka jalan bagi lahirnya berbagai inovasi lainnya.
Seiring waktu, jenis produk yang dihasilkan semakin beragam. KWT Bina Tani Mysari Pala kini memproduksi sirup, selai, manisan kering, permen, teh, hingga kue pala krispi untuk memenuhi selera pasar.
Perjalanan mengembangkan usaha tersebut bukan tanpa hambatan. Kelompok sempat kesulitan menjaga ketersediaan buah pala segar karena keterbatasan alat pendingin. Proses produksi yang masih dilakukan secara manual juga membutuhkan waktu dan tenaga cukup besar.
Di tengah kondisi tersebut, para anggota tetap berupaya mempertahankan kualitas. Mereka menerapkan standar resep baku agar produk lebih awet dan tetap layak dikirim ke luar daerah.
Advertisement
Pertemuan dengan BRI Membuka Peluang Baru
Titik balik perjalanan KWT Bina Tani Mysari Pala terjadi pada 2025. Bersama Penyuluh Pertanian, pihak perbankan mendatangi kelompok tersebut dan memperkenalkan berbagai program yang dapat membantu pengembangan usaha mereka.
Dari pertemuan itu, KWT Bina Tani Mysari Pala mulai terhubung dengan program BRI Peduli dan klaster unggulan. Kesempatan mengikuti pameran serta berbagai pelatihan pun terbuka.
“Dari situ beliau menceritakan bahwa BRI itu ada kegiatan BRI Peduli, ada klaster unggulan. Setelah beberapa waktu, beliau mengundang kami untuk ikut pameran, pelatihan pengelolaan keuangan, branding, optimasi toko di marketplace, hingga penguatan kelembagaan,” kata Nurhasanah.
Pendampingan tersebut tidak hanya menambah pengetahuan anggota dalam mengelola usaha, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan diri mereka untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Para anggota mulai aktif mempromosikan produk melalui media sosial dan lokapasar.
Bagi Nurhasanah, pelaku usaha tidak perlu merasa malu memperkenalkan produknya. Keberanian memanfaatkan berbagai platform digital menjadi salah satu kunci agar produk lokal semakin dikenal dan memiliki peluang pasar lebih besar.
Advertisement
Mesin Produksi Tingkatkan Kapasitas dan Pendapatan
Perubahan besar juga terjadi di dapur produksi setelah KWT Bina Tani Mysari Pala menerima bantuan peralatan modern dari BRI. Mesin-mesin tersebut membuat sejumlah tahapan pengolahan yang sebelumnya dikerjakan secara manual menjadi lebih cepat dan efisien.
“Kami mendapat peralatan lengkap yang diturunkan oleh BRI, mulai dari mesin pengupas pala, mesin parut, mesin pencacah, hingga mesin pengering. Sekarang dikerjakan dengan sangat cepat dan kami bisa menghasilkan lebih banyak produk lagi,” kata Nurhasanah.
Modernisasi alat produksi memungkinkan kelompok meningkatkan frekuensi sekaligus kapasitas produksinya. Dampaknya dirasakan langsung oleh para anggota, termasuk Anisa. Menurutnya, proses pengolahan lebih dari 40 kilogram pala yang sebelumnya membutuhkan waktu empat hingga lima jam kini dapat diselesaikan jauh lebih cepat.
“Tadinya produksi seminggu sekali, jadi sekarang alhamdulillah lebih sering. Menambah pendapatan juga untuk saya yang sudah berkeluarga. Alhamdulillah sangat terbantu ya, dari sebelumnya manual harus pakai pisau dan butuh waktu 4 sampai 5 jam untuk produksi di atas 40 kilo, sekarang jadi jauh lebih cepat,” kata Anisa.
Bertambahnya aktivitas produksi juga turut meningkatkan pendapatan anggota. Bagi para perempuan yang telah berkeluarga, penghasilan dari usaha ini membantu menopang kebutuhan rumah tangga sekaligus memperkuat kemandirian finansial.
Manfaat tersebut turut dirasakan dalam lingkup sosial yang lebih luas. Marketing Mysari Pala, Aulia, menilai keberadaan dapur produksi bukan hanya membuat produk semakin banyak dan dikenal, tetapi juga menciptakan ruang pemberdayaan bagi perempuan di wilayah tersebut.
“Dapur Mysari ini selain bisa mengolah produk yang lebih banyak dan lebih dikenal lagi, bisa juga lebih memberdayakan terutama perempuan di wilayah,” ucap Aulia.
Kolaborasi dengan BRI akhirnya membawa KWT Bina Tani Mysari Pala melangkah lebih jauh. Komoditas yang dahulu dianggap tidak berguna kini menjadi sumber penghasilan sekaligus membuka peluang bagi perempuan desa untuk mengambil peran lebih besar dalam menggerakkan perekonomian keluarga dan lingkungan.
Nurhasanah berharap kisah kelompoknya dapat mendorong pelaku usaha lain untuk terus menggali potensi di sekitar mereka.
“Mari tetap berdaya, terus berinovasi, jangan mudah menyerah, manfaatkan apa yang ada di sekitar kita,” kata Nurhasanah.
Berkat ketekunan para anggotanya dan dukungan pemberdayaan dari BRI, KWT Bina Tani Mysari Pala membuktikan bahwa inovasi dapat tumbuh dari hal yang kerap terabaikan. Dari daging buah pala yang sebelumnya terbuang, mereka membangun usaha berkelanjutan, memperluas pasar, dan menghadirkan sumber kesejahteraan baru bagi perempuan desa.