Pemberdayaan perempuan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tidak sekadar memutar roda ekonomi, tetapi juga menjadi jaring pengaman bagi masa depan pendidikan anak. Hal inilah yang terus didorong oleh PT Permodalan Nasional Madani (PNM) melalui penguatan kapasitas ekonomi para ibu rumah tangga.
Direktur Operasional dan Hubungan Kelembagaan PNM, Lalu Dodot Patria Ary, menegaskan bahwa dampak dari kemandirian ekonomi perempuan sangat terasa dalam kesejahteraan keluarga secara keseluruhan.
"Kami melihat perjuangan ibu-ibu pelaku usaha bukan hanya tentang bagaimana mereka menjalankan usaha, tetapi juga bagaimana seorang ibu berusaha memastikan anaknya tetap mendapatkan pendidikan yang layak," kata Dodot dikutip dari Antara, Minggu (30/8).
Bagi PNM, esensi pemberdayaan UMKM harus melampaui urusan suntikan modal dan kapasitas bisnis semata. Indikator keberhasilan yang tak kalah penting adalah sejauh mana usaha tersebut mampu membawa kesejahteraan bagi keluarga serta lingkungan sekitar.
PNM menyoroti ketahanan ekonomi keluarga yang makin solid berbanding lurus dengan kepastian keberlanjutan pendidikan anak-anak mereka.
"Ketika usaha berkembang dan pendapatan keluarga semakin kuat, orang tua memiliki ruang yang lebih besar untuk menjaga keberlanjutan pendidikan anak," katanya.
Prinsip itulah yang mendasari PNM untuk konsisten menerapkan pola pemberdayaan berkelanjutan. Tujuan utamanya agar manfaat dari pertumbuhan usaha dapat dirasakan melampaui sekadar angka peningkatan pendapatan.
"Usahanya kita bantu tumbuh, keluarganya kita perhatikan, dan masa depan anak-anaknya juga harus memiliki ruang untuk tumbuh," ujarnya.
Advertisement
Dampak Nyata di Lapangan
Komitmen PNM dalam mendukung lingkungan pendidikan anak-anak nasabah ditunjukkan melalui tindakan nyata. Salah satunya lewat aksi kepedulian berupa perbaikan fasilitas di SMP Taman Dewasa 2 Dlingo, Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sekolah tersebut merupakan tempat menimba ilmu dari anak Sulastri, seorang perajin bambu asal Dlingo. Perempuan pelaku usaha mikro ini telah merintis usahanya sejak 2021 demi menopang ekonomi keluarga. Bagi Sulastri, kerja kerasnya mengolah kerajinan bambu bukan sebatas mencari sesuap nasi, melainkan bagian dari perjuangan agar sang buah hati tidak putus sekolah.
Penghasilan dari usaha produktif itu memberi kelonggaran bagi keluarga Sulastri dalam mencukupi kebutuhan harian sekaligus mengamalkan pentingnya pendidikan bagi anak.
"Ketika perempuan memiliki kemampuan ekonomi yang semakin baik, manfaatnya dapat mengalir kepada generasi berikutnya melalui kesempatan untuk terus tumbuh dan memperoleh pendidikan," kata Dodot.