Biodigester Komunal di Jakarta Utara Ubah 500 Kg Sampah Jadi Biogas dan Pupuk

Setiap unit biodigester dirancang khusus untuk memproses hingga 250 kilogram sampah organik per hari.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Biodigester Komunal di Jakarta Utara Ubah 500 Kg Sampah Jadi Biogas dan Pupuk
Warga yang berprofesi sebagai pemulung mengumpulkan sampah plastik dengan latar belakang Gunung Gede-Pangrango di Tempat Pembuangan Akhir Galuga, Bogor, Kamis (6/11/2025). Arahan ini bertujuan untuk mencegah pencemaran lingkungan dan penyebaran mikroplastik. (merdeka.com/Arie Basuki)

Persoalan sampah organik di Jakarta kini mendapat solusi konkret berbasis teknologi ramah lingkungan. Bank Jakarta resmi memulai pembangunan biodigester komunal yang mampu mengolah sampah organik langsung dari sumbernya menjadi energi terbarukan dan pupuk.

Langkah ini ditandai dengan prosesi peletakan batu pertama (groundbreaking) di Rusunawa Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara. Selain di Rusunawa Rorotan, fasilitas serupa juga dibangun di TPS 3R Kelurahan Rawa Badak Utara.

Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk kontribusi perusahaan dalam mengatasi tantangan lingkungan di ibu kota.

"Pembangunan biodigester di Rorotan merupakan bentuk kontribusi nyata Bank Jakarta untuk turut menjawab tantangan pengelolaan sampah di Jakarta. Kami ingin program TJSL yang dijalankan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus mendukung upaya menjaga lingkungan Jakarta," ujar Agus di Jakarta, Selasa (11/8).

Secara teknis, program yang menjadi bagian dari implementasi Rencana Aksi Keuangan Berkelanjutan (RAKB) Bank Jakarta Tahun 2026 ini menawarkan pengolahan limbah dari hilir ke hulu. Setiap unit biodigester dirancang khusus untuk memproses hingga 250 kilogram sampah organik per hari.

Dengan hadirnya dua unit fasilitas baru ini, total sampah organik yang dapat diserap mencapai 500 kilogram (0,5 ton) per hari.

Sistem pengolahan ini bekerja dengan mengubah limbah organik menjadi dua produk bernilai tambah:

  • Biogas (Energi Terbarukan): Memproduksi sekitar 37,5 meter kubik biogas per hari sebagai sumber energi bersih.
  • Residu Organik: Diolah kembali menjadi pupuk organik yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

Tak hanya mengurai sampah, keberadaan fasilitas ini diproyeksikan mampu menekan emisi gas rumah kaca sebesar 423 kilogram CO2e per hari atau setara 154,4 ton CO2e per tahun.

Integrasi dan Kolaborasi Pengelolaan Limbah

Peletakan batu pertama (groundbreaking) di Rusunawa Rorotan, Cilincing.
Peletakan batu pertama (groundbreaking) di Rusunawa Rorotan, Cilincing.

Sekretaris Perusahaan Bank Jakarta, Arie Rinaldi, menambahkan pentingnya integrasi dan kolaborasi dalam pengelolaan limbah dari sumbernya.

"Melalui pembangunan biodigester ini, Bank Jakarta mengambil bagian dalam upaya pengelolaan sampah organik dari sumber sekaligus mendorong agar sampah dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjadi bagian penting agar upaya penanganan sampah dapat dilakukan secara lebih terintegrasi," ucap Arie. 

Pembangunan di Rorotan dan Rawa Badak Utara ini merupakan replikasi dari kesuksesan instalasi biodigester komunal di Kelurahan Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur, yang telah diresmikan pada November 2025 lalu.

"Pengalaman dari program biodigester di Pekayon menjadi bagian dari upaya kami untuk terus memperluas kontribusi di bidang lingkungan. Kini, kami memperluas pemanfaatan teknologi biodigester yang berasal dari pengolahan sampah organik yang berasal dari sumber melalui program kolaborasi bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta," tutup Arie.

Rekomendasi