Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bidang industri semen dan solusi bahan bangunan, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) memperkuat kesiapan produksi dan jaringan distribusi untuk menjaga kelancaran pasokan semen di Aceh di tengah peningkatan kebutuhan dan tekanan pasokan.
Direktur Operasi SIG, Reni Wulandari mengatakan, penguatan dilakukan melalui optimalisasi fasilitas produksi dan distribusi, koordinasi dengan distributor dan mitra logistik, serta pemantauan ketersediaan stok secara rutin.
"Selain mengoptimalkan fasilitas produksi dan distribusi di wilayah Aceh, SIG juga memperkuat koordinasi dengan distributor dan mitra logistik guna menjaga distribusi berjalan secara tertib dan efisien,” kata Reni dikutip dari Antara, Selasa (11/8).
Menurut dia, perusahaan juga melakukan pemantauan rutin terhadap ketersediaan stok dan aktivitas distribusi serta evaluasi harian sebagai dasar pengambilan keputusan terkait pemenuhan kebutuhan semen di wilayah tersebut.
Langkah tersebut dilakukan seiring meningkatnya kebutuhan semen di Aceh yang dinilai perlu direspons dengan penguatan koordinasi seluruh jaringan operasional dan distribusi agar pasokan kepada masyarakat maupun kegiatan pembangunan tetap terjaga.
Dalam memastikan kesiapan operasional, Reni meninjau fasilitas PT Solusi Bangun Andalas di Lhoknga dan Lhokseumawe serta pabrik pengemasan PT Semen Padang di Malahayati.
Peninjauan dilakukan bersama Direktur PT Solusi Bangun Andalas Edi Sarwono dan Direktur Operasi PT Semen Padang Andria Delfa.
Perusahaan menyebut upaya menjaga ketersediaan semen di Aceh berkaitan dengan kebutuhan pembangunan setelah wilayah tersebut terdampak banjir pada akhir 2025.
Advertisement
Wilayah Lain Terdampak Bencana
Selain Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat sebagai wilayah yang turut terdampak bencana banjir pada periode tersebut.
Menurut Reni, perusahaan berupaya menjaga ketersediaan produk di berbagai titik penjualan meski menghadapi tekanan pada ketersediaan dan harga bahan bakar.
"Sebagai perusahaan BUMN, kami memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi mendukung agenda pembangunan pemerintah, serta memenuhi kebutuhan pembangunan masyarakat," ujarnya.
Ia mengatakan upaya tersebut dilakukan dengan menjaga keandalan operasional dan pasokan semen dari fasilitas operasi yang berada dalam jaringan SIG Group.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mencatat penjualan semen di Aceh meningkat sekitar 30 persen pada triwulan I-2026 seiring kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, termasuk pembangunan hunian sementara, hunian tetap, jalan, dan jembatan. Pada periode tersebut, lapangan usaha konstruksi Aceh tumbuh 15,95 persen secara tahunan.
Besarnya kebutuhan material juga sejalan dengan skala pemulihan Aceh. Berdasarkan data Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR), bencana akhir November 2025 merusak 116.767 rumah, sedangkan anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh mencapai sekitar Rp58,9 triliun untuk 2026–2028, termasuk Rp24,21 triliun pada 2026.