Jelang FOMC, Rupiah Melemah Nyaris Rp18.100 per USD

Rupiah di Rp18.099 per USD pada Rabu (29/7/2026). Tekanan datang dari lonjakan minyak usai serangan Iran dan antisipasi nada hawkish The Fed.

Agustina Melani
Oleh Agustina Melani - Reporter
Jelang FOMC, Rupiah Melemah Nyaris Rp18.100 per USD
Pegawai menunjukkan mata uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (5/1/2023). Nilai tukar rupiah ditutup di level Rp15.616 per dolar AS pada Kamis (5/1) sore ini. Mata uang Garuda melemah 34 poin atau minus 0,22 persen dari perdagangan sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada awal perdagangan Rabu (29/7), bergerak ke Rp18.099 per dolar AS (USD) atau turun 16 poin (0,09 persen) dibanding penutupan sebelumnya di Rp18.083 per USD.

Tekanan pada rupiah disebut berkaitan dengan lonjakan harga minyak dunia setelah laporan serangan Iran terhadap pasukan Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah. Analis memproyeksikan pelemahan rupiah masih berlanjut pada sesi hari ini.

Menurut Anadolu, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyampaikan pada Selasa, 28 Juli 2026, bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menembakkan beberapa rudal balistik ke arah pasukan AS di kawasan. Laporan media lokal turut menyebut serangan mengarah ke pangkalan militer AS di Yordania.

Minyak Naik dan Ketegangan Iran-AS Tekan Rupiah

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai kenaikan harga minyak pasca-serangan Iran menambah tekanan pada aset berisiko, termasuk rupiah.

"Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS, dengan harga minyak mentah yang kembali melonjak menyusul berita penyerangan oleh Iran terhadap pasukan AS di Timteng," kata Analis Doo Financial Futures Lukman Leong dikutip dari Antara.

Ketegangan geopolitik tersebut menambah ketidakpastian pasar, seiring meningkatnya risiko pada jalur pasokan energi global.

"Namun, pasar mengantisipasi nada hawkish Kepala The Fed. Ini tentunya akan juga membebani rupiah," kata Lukman.

Ia memperkirakan pernyataan bernada hawkish berpotensi terkait lonjakan harga minyak yang dikhawatirkan kembali memicu kenaikan inflasi di AS.

Pasar Menunggu FOMC dan Nada Ketua The Fed

Agenda Federal Open Market Committee (FOMC) menjadi fokus hari ini. Ekspektasi pasar mengarah pada kebijakan suku bunga yang tetap.

"Federal Reserve diperkirakan secara luas akan mempertahankan suku bunga pada Rabu, 29 Juli 2026," ujar Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi dikutip dari Antara.

Data CME FedWatch menunjukkan probabilitas sekitar 62% untuk skenario suku bunga ditahan. Di saat bersamaan, pasar menanti pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh, yang belakangan dinilai bernada hawkish sejak keputusan suku bunga terakhir pada Juni.

Warsh juga disebut meluncurkan tinjauan operasional bank sentral dengan menunjuk lima gugus tugas untuk membenahi berbagai aspek, termasuk komunikasi dan kerangka kerja pencapaian sasaran inflasi.

Rupiah dan JISDOR pada Sesi Sebelumnya

Pada penutupan Selasa (28/7), rupiah melemah 74 poin atau 0,41 persen ke Rp18.083 per USD dari Rp18.009 per USD. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga melemah ke Rp18.088 per USD dari Rp17.995 per USD.

Prospek kebijakan moneter global cenderung fluktuatif pada bulan ini, seiring dinamika di Timur Tengah. Harga minyak sempat melonjak sekitar 20 persen dalam dua pekan terakhir saat AS dan Iran saling melancarkan serangan terkait kendali atas Selat Hormuz.

Sentimen Domestik: Transisi BI dan Respons Rating

Dari dalam negeri, ketidakpastian sempat meningkat pascapengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia, di tengah depresiasi rupiah, derasnya arus keluar dana asing, dan risiko kenaikan suku bunga global dalam jangka pendek.

"Namun, penunjukan Destry Damayanti memberi optimisme pasar akan komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan laju inflasi, serta mempertahankan stabilitas sistem keuangan yang berkelanjutan," ujar dia.

Perhatian pasar kini tertuju pada penunjukan Gubernur BI secara definitif yang diharapkan berjalan mulus demi menjaga kredibilitas dan independensi kebijakan moneter. Seiring sentimen tersebut, rupiah hari ini diperkirakan bergerak di kisaran Rp18.000–Rp18.100 per dolar AS.

"Sovereign Analyst di S&P Global Ratings Rain Yin mengatakan kepada outlet media Bloomberg bahwa ia menilai pengunduran diri Perry Warjiyo tidak berdampak langsung pada sovereign rating Indonesia, meski hal tersebut dapat berkontribusi pada peningkatan risiko terkait prospek kebijakan negara," kata Ibrahim.

Rekomendasi