ADB Prediksi Ekonomi Asia Pasifik Melambat Hingga 2027 Akibat Konflik dan Ketidakpastian Global

ADB memprediksi Ekonomi Asia Pasifik Melambat hingga 2027, dipicu konflik Timur Tengah dan ketidakpastian perdagangan global. Simak dampaknya!

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
ADB Prediksi Ekonomi Asia Pasifik Melambat Hingga 2027 Akibat Konflik dan Ketidakpastian Global
ADB memprediksi Ekonomi Asia Pasifik Melambat hingga 2027, dipicu konflik Timur Tengah dan ketidakpastian perdagangan global. Simak dampaknya! (AntaraNews)

Asian Development Bank (ADB) memperkirakan pertumbuhan ekonomi negara berkembang di kawasan Asia dan Pasifik akan mengalami perlambatan signifikan. Proyeksi terbaru menunjukkan pertumbuhan akan menurun menjadi 5,1 persen pada tahun 2026 dan 2027. Angka ini lebih rendah dari estimasi sebelumnya sebesar 5,4 persen pada tahun 2025.

Penurunan prediksi pertumbuhan ini disebabkan oleh beberapa faktor eksternal yang menimbulkan ketidakpastian global. Konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama perlambatan ekonomi di kawasan ini. Selain itu, ketidakpastian dalam kebijakan perdagangan global juga turut berkontribusi pada revisi proyeksi ekonomi tersebut.

Kepala Ekonom ADB, Albert Park, menjelaskan bahwa prakiraan ini dibuat dengan asumsi stabilisasi dini konflik Timur Tengah, namun perkembangan terkini menunjukkan potensi disrupsi yang lebih persisten. Inflasi regional juga diperkirakan akan meningkat menjadi 3,6 persen pada 2026 dan 3,4 persen pada 2027, naik dari 3 persen pada tahun sebelumnya.

Faktor Pemicu Perlambatan Ekonomi Regional

Perlambatan pertumbuhan ekonomi di Asia dan Pasifik dipicu oleh kombinasi faktor geopolitik dan ekonomi makro. Konflik berkepanjangan di Timur Tengah merupakan risiko terbesar yang dapat menyebabkan kenaikan harga energi dan pangan secara berkelanjutan. Situasi ini juga berpotensi memperketat kondisi keuangan global, memberikan tekanan lebih lanjut pada perekonomian kawasan.

Selain itu, munculnya kembali ketidakpastian kebijakan perdagangan global menambah lapisan risiko baru. Pemerintah di berbagai negara diimbau untuk menerapkan kebijakan makroekonomi yang tepat. Langkah-langkah ini penting guna menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi dan menahan laju inflasi yang berpotensi meningkat.

Albert Park menyoroti bahwa asumsi awal proyeksi yang difinalisasi pada 10 Maret mengindikasikan skenario stabilisasi dini konflik. Namun, ia menambahkan, “Perkembangan sejauh ini menunjukkan peluang lebih besar terjadinya disrupsi yang lebih persisten.” Pernyataan ini menggarisbawahi tingkat ketidakpastian yang tinggi dalam proyeksi ekonomi saat ini.

Dampak Konflik Timur Tengah dan Risiko Global

Konflik di Timur Tengah memiliki potensi dampak yang luas terhadap kegiatan ekonomi di Asia dan Pasifik. Kenaikan harga komoditas, terutama energi dan pangan, menjadi salah satu jalur utama dampaknya. Gangguan pada jalur pengapalan dan volatilitas keuangan global juga merupakan konsekuensi yang tidak terhindarkan dari situasi ini.

Laporan Asian Development Outlook (ADO) April 2026 secara khusus mengkaji berbagai skenario dampak konflik terhadap perekonomian kawasan. Laporan tersebut menekankan bahwa eskalasi konflik dapat memperburuk kondisi ekonomi melalui berbagai saluran. Hal ini termasuk peningkatan biaya produksi dan transportasi yang pada akhirnya membebani konsumen.

Meskipun menghadapi lingkungan global yang penuh tantangan, kawasan Asia dan Pasifik berada dalam posisi yang relatif kuat. Permintaan domestik yang masih baik, pasar tenaga kerja yang stabil, serta pengeluaran infrastruktur publik yang tinggi menjadi penopang ketahanan ekonomi. Namun, risiko eksternal tetap memerlukan perhatian serius dari para pembuat kebijakan.

Proyeksi Pertumbuhan di Negara-negara Utama

Sebagian besar perekonomian negara berkembang di Asia dan Pasifik mengalami penurunan proyeksi pertumbuhan untuk tahun 2026 dan 2027. Meskipun demikian, pengeluaran rumah tangga tetap tangguh dan permintaan akan barang-barang terkait kecerdasan buatan (AI) masih solid. Hal ini memberikan sedikit bantalan terhadap perlambatan yang diprediksi.

Di Republik Rakyat Tiongkok (RRT), pertumbuhan diproyeksikan menurun dari 5 persen pada tahun 2025 menjadi 4,6 persen pada 2026 dan 4,5 persen pada 2027. Penurunan ini disebabkan oleh berlanjutnya kemerosotan pasar properti serta melambatnya pertumbuhan ekspor. Kedua faktor ini secara signifikan menahan laju kegiatan ekonomi di negara tersebut.

Sementara itu, di India, ADB memprediksi pertumbuhan melambat menjadi 6,9 persen pada tahun ini dari 7,6 persen tahun lalu. Namun, pertumbuhan diperkirakan akan kembali meningkat menjadi 7,3 persen pada tahun depan, didukung oleh ketahanan konsumsi domestik. Perekonomian di Pasifik diperkirakan mengalami penurunan yang lebih besar, dari 4,2 persen pada 2025 menjadi 3,4 persen pada 2026 dan 3,2 persen pada 2027.

Harga minyak diproyeksikan akan tetap tinggi dalam waktu dekat, namun dapat secara bertahap menurun jika ketegangan geopolitik mereda. Albert Park juga memperingatkan, “Kenaikan tajam baru-baru ini pada harga energi dan potensi gangguan di pasar pupuk yang berkaitan dengan konflik di Timur Tengah dapat menimbulkan tekanan inflasi harga pangan dunia.” Ini menunjukkan risiko inflasi pangan global yang perlu diwaspadai.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi