Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Kuat di Tengah Tekanan Nilai Rupiah, Membuka Peluang Peningkatan Ekspor

Penguatan dolar AS terjadi secara global terhadap berbagai mata uang, termasuk rupiah, terutama di negara-negara berkembang.

Tim Bisnis
Oleh Tim Bisnis - Reporter
Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Kuat di Tengah Tekanan Nilai Rupiah, Membuka Peluang Peningkatan Ekspor
Teller tengah menghitung mata uang dolar AS di penukaran uang di Jakarta, Rabu (10/7/2019). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup stagnan di perdagangan pasar spot ha (© 2026 Liputan6.com)

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Selasa (7/4) ditutup di angka 17.105 per dolar AS. Sementara itu, pada pagi hari Rabu (8/4), rupiah dibuka dengan penguatan tipis di level 16.985 per dolar AS. Mengenai pergerakan rupiah yang sempat mengalami tekanan, banyak pelaku pasar menilai bahwa hal ini tidak mencerminkan kelemahan fundamental ekonomi Indonesia.

Tekanan yang terjadi lebih disebabkan oleh dinamika global yang sedang bergejolak, mulai dari penguatan dolar AS hingga meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia, David Sutyanto, menegaskan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah saat ini perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. Ia menjelaskan bahwa penguatan dolar AS terjadi secara menyeluruh terhadap berbagai mata uang di dunia, khususnya di negara-negara berkembang, seiring dengan tingginya suku bunga di Amerika Serikat dan meningkatnya kecenderungan investor global untuk mencari aset yang lebih aman.

"Tekanan terhadap rupiah bersifat siklikal. Ini bukan semata persoalan domestik, melainkan bagian dari penyesuaian global," ujarnya pada Rabu (8/4).

David juga menekankan bahwa meskipun ada tekanan, kondisi ekonomi Indonesia tetap berada pada jalur yang solid. Pertumbuhan ekonomi stabil di kisaran 5 persen, inflasi terkendali sesuai dengan target Bank Indonesia, dan sektor perbankan menunjukkan ketahanan yang kuat dengan permodalan serta likuiditas yang memadai.

Dari sisi eksternal, cadangan devisa Indonesia tetap berada di level yang sehat, cukup untuk membiayai lebih dari enam bulan impor. Dalam laporan Bank Indonesia, cadangan devisa RI pada akhir Maret 2026 masih tinggi, mencapai USD 148,2 miliar.

"Selain itu, neraca perdagangan yang masih mencatat surplus menjadi penopang penting, didorong oleh kinerja ekspor komoditas unggulan seperti batu bara, CPO, dan nikel."

Fase Overshooting

Fundamental Ekonomi RI Tetap Kokoh di Tengah Tekanan Rupiah, Jadi Peluang Dongkrak Ekspor
Teller tengah menghitung mata uang dolar AS di penukaran uang di Jakarta, Rabu (10/7/2019). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup stagnan di perdagangan pasar spot ha © 2026 Liputan6.com

Pandangan serupa juga diungkapkan oleh Ekonom Fakhrul Fulvian. Ia berpendapat bahwa saat ini pelemahan rupiah telah memasuki fase overshooting, yaitu keadaan di mana nilai tukar bergerak melebihi titik keseimbangan jangka pendek akibat reaksi berlebihan pasar terhadap tekanan global.

"Pergerakan ini lebih mencerminkan respons pasar terhadap shock global dan rigiditas domestik, bukan perubahan fundamental yang permanen," jelasnya.

Fakhrul menambahkan bahwa salah satu penyebab fenomena ini adalah tertundanya penyesuaian harga domestik, terutama pada komponen yang diatur oleh pemerintah. Dalam situasi ini, nilai tukar menjadi variabel yang lebih cepat menyesuaikan.

Walaupun demikian, ia berpendapat bahwa langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas sudah tepat. Intervensi di pasar, baik melalui transaksi spot maupun instrumen derivatif, dianggap penting untuk mengurangi volatilitas dan mempertahankan kepercayaan pasar, meskipun tidak dapat serta-merta menghilangkan tekanan secara instan.

Di balik tekanan yang ada, pelemahan rupiah justru membuka peluang strategis bagi perekonomian nasional. David mengamati bahwa kondisi ini dapat meningkatkan daya saing ekspor Indonesia di pasar global, sekaligus mendorong perbaikan neraca transaksi berjalan.

"Ini juga menjadi momentum untuk mempercepat substitusi impor dan memperkuat struktur industri domestik," katanya.

Fakhrul juga melihat adanya tanda-tanda stabilisasi global, terutama dengan meredanya ketegangan geopolitik dan meningkatnya harga komoditas yang menguntungkan Indonesia sebagai negara eksportir. Dalam kondisi tersebut, tekanan terhadap rupiah berpotensi mereda secara bertahap. Ia meyakini bahwa fase overshooting yang terjadi saat ini akan diikuti oleh proses normalisasi nilai tukar.

Menurutnya, kondisi ini bisa dimanfaatkan oleh pelaku pasar sebagai momentum untuk mulai menyesuaikan strategi investasi.

"Ketika mulai ada stabilisasi, biasanya kita masuk fase normalisasi. Ini bisa menjadi momentum untuk secara bertahap mengurangi eksposur terhadap dolar AS," ujarnya.

Rekomendasi