Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Aceh Barat melaporkan capaian investasi yang signifikan pada tahun 2025. Sektor pertambangan menjadi primadona dengan nilai investasi mencapai Rp363 miliar. Angka ini menegaskan peran vital sektor tersebut dalam menggerakkan perekonomian lokal.
Kepala DPMPTSP Kabupaten Aceh Barat, Ifan Murdani, menjelaskan bahwa kontribusi sektor pertambangan mencapai 47,5 persen dari total investasi daerah. Posisi ini mengukuhkan pertambangan sebagai sektor unggulan yang mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut. Pencapaian ini menjadi bukti potensi besar Aceh Barat.
Selain pertambangan, sektor tanaman pangan, perkebunan, dan kehutanan juga menunjukkan performa baik dengan investasi sebesar Rp158 miliar. Namun, dominasi sektor pertambangan tetap tak tergoyahkan, menunjukkan fokus pembangunan ekonomi daerah.
Advertisement
Advertisement
Dominasi Investasi Sektor Pertambangan di Aceh Barat
Investasi sektor pertambangan di Kabupaten Aceh Barat pada tahun 2025 mencapai angka Rp363 miliar. Angka ini menempatkan sektor pertambangan sebagai penyumbang terbesar ekonomi daerah dengan kontribusi 47,5 persen. Hal ini disampaikan oleh Kepala DPMPTSP Aceh Barat, Ifan Murdani, di Meulaboh.
Di bawah sektor pertambangan, investasi pada sektor tanaman pangan, perkebunan, dan kehutanan menempati posisi kedua. Sektor ini menyumbang sekitar Rp158 miliar atau 20,8 persen dari total investasi. Perbandingan ini menunjukkan dominasi jelas sektor pertambangan.
Secara geografis, Kecamatan Meureubo menjadi wilayah dengan nilai investasi tertinggi, mencapai Rp378 miliar. Disusul kemudian oleh Kecamatan Panton Reue dan Kecamatan Woyla, yang masing-masing mencatat investasi di atas Rp100 miliar. Distribusi ini menunjukkan konsentrasi investasi pada beberapa wilayah strategis.
Advertisement
Advertisement
Realisasi Investasi dan Komitmen Digitalisasi Layanan
Distribusi investasi per triwulan tahun 2025 di Kabupaten Aceh Barat menunjukkan pola yang menarik. Triwulan pertama mencatat Rp104,2 miliar, lalu meningkat menjadi Rp179,4 miliar pada triwulan kedua. Puncak realisasi terjadi pada triwulan ketiga dengan Rp359,6 miliar, sebelum menurun ke Rp121,3 miliar lebih pada triwulan keempat.
DPMPTSP Aceh Barat juga menunjukkan komitmen kuat terhadap digitalisasi layanan perizinan. Seluruh perizinan yang diterbitkan pada tahun 2025 diproses secara daring. Proses ini dilakukan melalui sistem OSS, SICANTIK, dan SIMBG untuk efisiensi.
Total perizinan dan non-perizinan yang berhasil diterbitkan pada tahun 2025 mencapai 3.253 dokumen. Ini menunjukkan peningkatan efektivitas pelayanan publik. Digitalisasi menjadi kunci dalam mempercepat proses perizinan.
Advertisement
Advertisement
Inovasi Layanan dan Dampak Positif bagi Tenaga Kerja Lokal
Berbagai inovasi layanan telah diterapkan oleh DPMPTSP Aceh Barat untuk memudahkan masyarakat. Inovasi tersebut meliputi Klik n Kring, layanan berbantuan perizinan via WhatsApp dan telepon. Ada juga Hiling (hadirkan layanan izin keliling) yang mendekatkan pelayanan ke masyarakat.
Layanan SILOPer (Sistem Layanan Ojek Perizinan) juga diluncurkan untuk pengantaran dokumen izin langsung ke rumah pemohon. Layanan ini menggunakan mitra ojek online lokal untuk mencegah pungutan liar. Selain itu, B'Invest Anywhere menjadi platform diskusi santai untuk sosialisasi peluang investasi daerah.
Sepanjang tahun 2025, DPMPTSP Aceh Barat berhasil mengelola anggaran sebesar Rp5,88 miliar. Tingkat realisasi anggaran mencapai 95,15 persen atau Rp5,60 miliar. Jumlah Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) juga naik signifikan 37 persen, mencapai 1.191 laporan.
Advertisement
Pemerintah Kabupaten Aceh Barat terus berupaya menciptakan ekosistem investasi yang transparan dan mudah diakses. Capaian ini memberikan dampak nyata bagi penyerapan tenaga kerja lokal. Sebanyak 845 orang tercatat terserap pada tahun 2025.
Sumber: AntaraNews