Sektor perikanan merupakan salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi di Indonesia, termasuk di Kota Jayapura, Papua. Wilayah Bumi Cenderawasih ini diberkahi dengan kekayaan hasil laut yang melimpah, khususnya di perairan utara Samudera Pasifik dan selatan Laut Arafura, dengan potensi mencapai 1,3 juta ton per tahun. Produk unggulan dari komoditas ini meliputi ikan tuna, cakalang, dan tongkol, yang menjadi andalan bagi masyarakat setempat.
Kota Jayapura, yang berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik, memiliki potensi perikanan yang sangat besar, dengan produksi ikan tangkap mencapai 45 ton setiap tahun. Sektor ini juga menjadi tulang punggung ekonomi bagi daerah berjuluk "Port Numbay" tersebut, ditandai dengan tingkat konsumsi ikan yang tinggi, mencapai 93,5 persen. Namun, di balik potensi besar ini, nelayan seringkali menghadapi kendala serius saat musim ikan melimpah, terutama terkait fasilitas pengeringan yang memadai.
Permasalahan ini terlihat jelas di Pulau Kosong, Kampung Kayo Pulo, di mana nelayan terpaksa mengeringkan ikan di jembatan yang ramai dilalui warga, menyebabkan risiko kontaminasi bakteri dan kerugian besar. Menanggapi tantangan ini, tim pengabdian dari Universitas Cenderawasih (Uncen) hadir menawarkan solusi inovatif berupa teknologi surya untuk pengeringan ikan. Inovasi ini bertujuan menjaga mutu ikan dan mencegah kontaminasi bakteri, sekaligus menghemat energi listrik.
Advertisement
Advertisement
Mengatasi Tantangan Nelayan dengan Inovasi Teknologi Surya
Ketika musim ikan melimpah, nelayan di Pulau Kosong kerap menghadapi kerugian besar akibat kurangnya fasilitas pengeringan yang higienis. Tingkat kerusakan ikan dapat mencapai 75 persen karena masa simpan ikan segar yang hanya 1-2 hari, memaksa mereka membuang sebagian hasil tangkapan. Kondisi ini tidak hanya merugikan secara ekonomi tetapi juga mengancam keberlanjutan mata pencarian mereka.
Menyadari urgensi masalah ini, tim pengabdian dari Uncen memperkenalkan teknologi surya berupa alat penyimpanan ikan yang dimodifikasi dengan tutup efek rumah kaca. Alat ini dirancang untuk menjaga mutu ikan yang dikeringkan, mencegah kontaminasi bakteri, dan mengontrol kadar air secara efektif. Penggunaan tenaga surya ini juga bertujuan mengurangi beban biaya listrik rumah tangga nelayan, karena energi diperoleh dari sel surya yang disimpan dalam baterai dan diubah menjadi listrik untuk operasional alat.
Popi L. Ayer, Ketua Program Studi Ilmu Kelautan dan Perikanan FMIPA Uncen, menjelaskan bahwa inovasi ini secara signifikan mengurangi tingkat kerusakan ikan. Dari yang semula 75 persen, kini kerusakan dapat ditekan hingga kurang dari 20 persen. Selain itu, masa simpan ikan juga meningkat drastis dari 1-2 hari menjadi 3-5 hari. Kapasitas ikan yang dikeringkan pun melonjak dari 100 kilogram per pekan menjadi 300 kilogram, memberikan dampak positif yang nyata bagi kesejahteraan nelayan.
Advertisement
Advertisement
Dampak Positif Teknologi Surya bagi Komunitas Nelayan
Pulau Kosong, yang terletak di RT 02 Kampung Kayo Pulo, Distrik Jayapura Selatan, dihuni oleh sekitar 150 kepala keluarga (KK) yang hampir seluruhnya berprofesi sebagai nelayan. Di pulau seluas tiga hektare ini, terdapat 20 kelompok nelayan yang sangat bergantung pada hasil laut. Marzuki, perwakilan kelompok nelayan setempat, mengungkapkan bahwa hasil tangkapan melimpah hanya terjadi pada periode Februari hingga Agustus, sementara bulan-bulan lainnya seringkali sulit.
Pada musim ikan, hasil tangkapan nelayan Pulau Kosong bisa mencapai ratusan ton per bulan, dengan setiap perahu atau kelompok mampu mendapatkan sekitar 15 ton. Namun, seringkali tidak semua ikan terjual atau terkonsumsi, sehingga banyak yang terbuang karena busuk. Hadirnya program pengabdian dari Uncen, didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), menjadi wujud nyata kehadiran negara dalam membantu masyarakat.
Teknologi pengeringan ikan berbasis surya ini sangat menghemat waktu, dari yang sebelumnya membutuhkan 3-4 hari dengan sinar matahari konvensional, kini hanya memerlukan 4-5 jam. Inovasi ini juga membuka peluang ekonomi baru bagi para istri nelayan untuk mengeringkan ikan, baik untuk kebutuhan keluarga maupun untuk dijual ke pasar. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menegaskan bahwa inovasi berbasis sains dan teknologi seperti ini memberikan nilai ekonomi nyata dan penting untuk terus didukung.
Advertisement
Advertisement
Pentingnya Penguatan Kelembagaan dan Kebijakan Pendukung
Meskipun teknologi surya telah membawa dampak positif, Ketua Program Studi Ilmu Kelautan dan Perikanan Uncen, Popi L. Ayer, menekankan pentingnya penguatan kelembagaan nelayan. Kelembagaan yang kuat, seperti kelompok nelayan, koperasi pesisir, dan Badan Usaha Milik Kampung/Desa (BUMK/BUMDes) pesisir, sangat krusial untuk meningkatkan kemandirian, profesionalisme, dan kesejahteraan mereka. Tanpa dukungan kelembagaan, posisi tawar nelayan akan tetap rendah.
Pendampingan dari pemerintah daerah juga menjadi kunci, tidak hanya dalam bentuk penyediaan dana, tetapi juga penciptaan lingkungan kebijakan yang kondusif. Pendampingan ideal harus mencakup aspek administrasi, akses terhadap program pemerintah, tata kelola keuangan sederhana, serta jaminan akses terhadap modal, pasar, informasi, dan teknologi tepat guna. Bantuan fisik harus selalu diikuti dengan pendampingan kapasitas agar peralatan tidak cepat rusak atau terbengkalai.
Selain itu, pendampingan berbasis karakter sosial dan budaya perlu menjadi perhatian serius, termasuk pengakuan hak ulayat laut dan pelibatan struktur adat pesisir seperti ondoafi, kepala kampung, dan dewan adat. Pendekatan komunal yang menghormati kearifan lokal sangat penting, karena pendampingan yang mengabaikan adat dapat memicu konflik dan resistensi sosial di masyarakat.
Advertisement
Sumber: AntaraNews