Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengambil langkah strategis dengan menyusun ulang indikator Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (Proper). Kebijakan ini diambil menyusul hasil evaluasi Kementerian Lingkungan Hidup yang menunjukkan ratusan hotel di Bali masih memiliki predikat merah terkait kinerja lingkungan. Langkah ini diharapkan dapat mendorong implementasi Proper Pariwisata Berkelanjutan di sektor akomodasi.
Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenpar, Rizki Handayani, menjelaskan bahwa keputusan ini merupakan respons atas banyaknya pertanyaan mengenai komponen penilaian yang dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup tahun lalu. Kesepakatan untuk merevisi Proper ini bertujuan untuk menciptakan sistem penilaian yang lebih relevan dan aplikatif bagi industri pariwisata. Inisiatif ini menandai komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas lingkungan di destinasi wisata utama.
Penyusunan ulang indikator Proper akan melibatkan kolaborasi erat antara Kemenpar dan Kementerian Lingkungan Hidup. Kedua kementerian akan bekerja sama untuk mengidentifikasi poin-poin penilaian yang esensial dan menghilangkan indikator yang kurang relevan. Fokus utama dalam revisi ini adalah pengelolaan sampah di hotel, yang akan menjadi komponen wajib dalam penilaian Proper Pariwisata Berkelanjutan ke depannya.
Advertisement
Advertisement
Revisi Indikator Proper dan Fokus Pengelolaan Sampah
Rizki Handayani menyatakan bahwa Kementerian Lingkungan Hidup telah menyerahkan wewenang kepada Kemenpar untuk merumuskan kembali indikator Proper, dengan penekanan khusus pada pengelolaan sampah di hotel. Meskipun pengelolaan sampah diwajibkan, Kemenpar menyadari perlunya perincian lebih lanjut mengenai bagaimana kewajiban tersebut akan diimplementasikan. Tantangan dalam mengelola sampah bagi pihak hotel atau akomodasi pariwisata tidaklah mudah, sehingga komunikasi yang efektif sangat diperlukan.
Kemenpar mengakui bahwa isu sampah adalah masalah bersama yang memerlukan penanganan serius, terutama di industri pariwisata. Oleh karena itu, diskusi mendalam akan dilakukan untuk memastikan bahwa standar pengelolaan sampah yang ditetapkan realistis dan dapat diterapkan secara efektif oleh pelaku usaha. Tujuannya adalah menciptakan sistem yang tidak hanya mengikat, tetapi juga memberikan panduan praktis bagi hotel.
Sebelumnya, Proper yang dinilai oleh Kementerian Lingkungan Hidup mencakup beberapa aspek penting. Penilaian tersebut meliputi penanganan sampah, pengendalian pencemaran air, pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3), pengelolaan limbah B3, serta pengendalian pencemaran udara. Hasil evaluasi terhadap 229 hotel menunjukkan bahwa masih banyak akomodasi di Bali yang perlu memperbaiki kinerja lingkungannya.
Advertisement
Kemenpar dan Kementerian Lingkungan Hidup sepakat bahwa pengelolaan sampah menjadi aspek krusial yang wajib ada dalam Proper. Namun, rincian implementasi pengelolaan sampah akan dibahas lebih lanjut untuk memastikan keberhasilan program. Hal ini mencerminkan pemahaman bahwa meskipun visi dan tujuan sama, pelaksanaan di tingkat operasional memerlukan pendekatan yang cermat dan terukur.
Advertisement
Pariwisata Berkelanjutan dan Citra Global Bali
Kemenpar menyadari bahwa keberhasilan hotel dalam mengelola limbah akan menjadi nilai tambah signifikan di mata wisatawan. Tren global menunjukkan peningkatan ketertarikan wisatawan terhadap pariwisata berkelanjutan, menjadikan praktik ramah lingkungan sebagai daya tarik tersendiri. Oleh karena itu, penerapan Proper Pariwisata Berkelanjutan tidak hanya memenuhi regulasi, tetapi juga meningkatkan citra dan daya saing hotel.
Selain mendorong pariwisata berkelanjutan melalui penilaian Proper, Kemenpar juga menyisipkan sektor keamanan dan keselamatan wisatawan sebagai indikator penting. Rizki Handayani menegaskan bahwa keselamatan wisatawan sangat berpengaruh terhadap citra pariwisata Bali di mata dunia, begitu pula kaitannya dengan investasi.
Jika citra Bali di mata dunia terus meningkat, maka investasi yang baik dan berdampak akan masuk dan semakin menambah devisa negara. Saat ini, industri pariwisata menduduki peringkat keempat sebagai penyumbang devisa tertinggi bagi Indonesia. Upaya ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk menjaga dan meningkatkan kualitas pariwisata Indonesia secara menyeluruh.
Advertisement
Sumber: AntaraNews